Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Banjir Rob di Surabaya Semakin Parah, Mangrove Hilang Jadi Penyebab Utama

Rahmat Adhy Kurniawan • Jumat, 19 Desember 2025 | 09:08 WIB
Hilangnya mangrove menjadi salah satu penyebab utama banjir rob yang kerap terjadi di pesisir.
Hilangnya mangrove menjadi salah satu penyebab utama banjir rob yang kerap terjadi di pesisir.

RADAR SURABAYA — Banjir rob semakin sering melanda wilayah pesisir Indonesia, termasuk Surabaya Utara.

Fenomena ini terjadi akibat kombinasi air pasang tinggi, curah hujan besar, dan hilangnya mangrove sebagai benteng alami, sehingga aktivitas masyarakat kerap terganggu.

Sapto Andriyono, pakar kelautan dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (Unair), menjelaskan bahwa banjir rob umumnya muncul di kawasan pesisir dengan elevasi lebih rendah dibandingkan level pasang maksimum.

“Di Surabaya Utara, beberapa titik memang sudah berada di bawah elevasi pasang laut, sehingga rawan terendam saat air pasang tinggi,” ujarnya, Kamis (18/12).

Durasi genangan banjir rob kerap semakin lama saat musim hujan. Air pasang yang tinggi ditambah curah hujan besar membuat genangan lambat surut, berdampak pada sektor ekonomi, pendidikan, dan mobilitas warga.

Selain faktor alam, pembangunan masif di pesisir memperparah kondisi. Kawasan resapan, termasuk hutan mangrove, banyak dialihfungsikan menjadi permukiman, pergudangan, dan kawasan industri.

Sapto menekankan, “Mangrove adalah benteng alami terbaik untuk meredam banjir rob karena mampu bertahan di kondisi air asin. Sayangnya, kini banyak mangrove yang hilang.”

Pembangunan tanggul beton memang kerap jadi solusi cepat, tetapi berpotensi menimbulkan dampak lanjutan, seperti mengubah arus laut, menimbulkan erosi, dan sedimentasi.

Selain itu, pengerasan lahan juga mempercepat penurunan tanah (land subsidence) dan intrusi air laut ke daratan, sehingga masyarakat pesisir semakin sulit mengakses air tawar.

“Semakin banyak bangunan, intrusi laut meningkat, dan air tawar terdorong menjauh. Sumur air tawar pun menjadi sulit dijangkau,” kata Sapto.

Ia menegaskan bahwa mitigasi banjir rob harus melibatkan edukasi masyarakat dan perencanaan tata kota yang ramah ekosistem pesisir.

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Sapto Andriyono #surabaya #banjir rob #mangrove