Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Video Eri Cahyadi Menari Sandur Madura Viral, Simbol Pelestarian Budaya Multikultural

Dimas Mahendra • Jumat, 19 Desember 2025 | 02:34 WIB

 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sempat viral saat menari Sandur Madura.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sempat viral saat menari Sandur Madura.

RADAR SURABAYA - Video Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang ikut menari dalam kesenian tradisional Sandur Madura viral di media sosial. Aksi tersebut dinilai sebagai wujud nyata komitmen

Pemerintah Kota Surabaya dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal di tengah kehidupan kota yang multikultural.

Sosiolog Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Andri Arianto, menilai kehadiran Eri dalam pentas Sandur bukan sekadar hiburan, melainkan simbol investasi sosial dan kultural bagi masa depan kota.

“Surabaya yang dikenal sebagai kota multikultural tumbuh dari perjumpaan berbagai etnis, agama, bahasa, dan tradisi. Dalam hal ini, Wali Kota dan jajarannya memiliki peran vital sebagai penjaga nilai, fasilitator kreativitas, dan penjamin keadilan budaya,” ujar Andri, Kamis (18/12).

Andri menjelaskan, Surabaya sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas karena posisinya sebagai pusat perdagangan nasional dan internasional.

Hal ini membuat kota tumbuh dengan keragaman etnis, mulai dari Tionghoa, Arab, Bugis, Banjar, Bali, hingga Madura.

Kesenian Sandur Madura, lanjutnya, merupakan salah satu tradisi yang berhasil beradaptasi di ruang urban Surabaya.

Seni pertunjukan rakyat yang memadukan tari, musik, dialog, humor, dan kritik sosial ini dibawa oleh migrasi masyarakat Madura dan kini menjadi penanda penting kontribusi etnis tersebut bagi kesenian kota.

“Sandur bukan hanya dipentaskan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana mempererat solidaritas komunitas. Di Surabaya, pertunjukan Sandur mengalami adaptasi, baik durasi, tema cerita, maupun ruang pentas yang kini bergeser ke balai warga atau panggung festival,” jelas Andri.

Namun, ia mengingatkan bahwa kesenian Sandur kini jarang tampil di ruang publik karena minimnya regenerasi seniman. Selain itu, stereotip terhadap etnis tertentu juga memengaruhi keterbatasan ruang dalam agenda budaya kota.

Andri menegaskan, kesenian Sandur Madura kini menjadi bagian dari mozaik kebudayaan Surabaya yang multikultural.

Dengan memberi ruang bagi Sandur untuk tumbuh dan tampil, Surabaya tidak hanya melestarikan kesenian lokal, tetapi juga meneguhkan dirinya sebagai kota yang menghargai akar budaya masyarakat urban.

“Kota Surabaya adalah ruang hidup dari perjumpaan desa dan kota, tradisi dan modernitas. Dengan memberi ruang bagi Sandur, Surabaya meneguhkan dirinya sebagai kota yang menghargai akar budaya warganya,” pungkas Andri. (dim/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#sandur #surabaya #madura #Eri Cahyadi #budaya