RADAR SURABAYA - Beberapa hari lalu viral salah seorang warga net mengunggah rumah di kawasan Siwalankerto yang kondisinya memprihatinkan, rimbun oleh tanaman liar, kotor, sampah berserakan dimana-mana.
Setelah dilakukan koordinasi oleh kelurahan terhadap keluarga pemilik rumah, serta instansi terkait, akhirnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya melakukan pembersihan rumah tersebut.
Proses pembersihan rumah yang kotor dan bau di Siwalankerto, dilakukan oleh Posko Terpadu Surabaya Selatan, BPBD Kota Surabaya, DLH Rayon Selatan, Dinas Sumber Daya Air Dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya , jajaran Kelurahan Siwalankerto dan jajaran Kecamatan Wonocolo, serta 3 pilar.
Pada hari pertama pembersihan diawali dengan pembersihan bagian luar dan menebang tanaman liar.
Selain itu juga membersihkan bagian dalam rumah yang ternyata dipenuhi berbagai sampah, seperti kardus, kemasan makanan, hingga pakaian yang memenuhi setiap sudut rumah.
Pada hari pertama pembersihan sudah mengeluarkan 5 dump truck sampah dan belum selesai karena masih banyak sampah.
Pada hari kedua pembersihan dilakukan menyeluruh ke semua bagian rumah, dan masih ada 3 dump truck. Jadi total dari pembersihan rumah tersebut menghasilkan 8 dump truck sampah.
Dari luar rumah tersebut memang terlihat sangat kumuh, bau, penuh sampah dan tak berpenghuni. Namun ternyata masih ada orang yang menghuni rumah tersebut.
Bahkan dari beberapa pernyataan petugas dan warga net, penghuni rumah diketahui masih ada dan ternyata menderita hoarding disorder.
Untuk diketahui, hoarding disorder (gangguan penimbunan) adalah gangguan mental yang ditandai dengan kesulitan ekstrem untuk membuang barang, bahkan yang tidak bernilai atau rusak, yang menyebabkan penumpukan barang secara berlebihan hingga memenuhi rumah dan mengganggu fungsi sehari-hari.
Seperti tidak bisa menggunakan dapur atau kamar mandi, serta menimbulkan stres signifikan bagi penderitanya.
Penderitanya merasa perlu menyimpan barang tersebut karena merasa akan membutuhkannya di masa depan atau merasa terhubung secara emosional, dan sangat stres jika ada yang mencoba membuangnya.
Bukan karena viral rumah di Siwalankerto tersebut baru ditindaklanjuti, namun pihak kelurahan setempat sudah berkoordinasi dengan pihak keluara sejak tahun lalu untuk pengondisian, namun tak kunjung ada tindak lanjut dari pihak keluarga. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari