RADAR SURABAYA - Tim mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
mengubah limbah plastik sekali pakai menjadi tas estetik dan fungsional melalui inovasi bernama Revoplast. Produk ini ditampilkan dalam pameran student impact venture showcase 2025 di Rektorat Unesa, Kampus II Lidah Wetan, sebagai hasil dari Program Bootcamp Kewirausahaan 2025.
Tim yang diketuai Fajar Yulianto mahasiswa Ekonomi terdiri dari 10 anggota dari Prodi S-1 Ekonomi dan Manajemen angkatan 2023 dengan slogan make plastic more worthy. Inovasi ini berangkat dari keresahan mereka terhadap tumpukan limbah plastik, terutama kantong kresek yang sulit terurai.
Baca Juga: Guncang Jagat Politik Nasional, Atalia Praratya Resmi Gugat Cerai Ridwan Kamil
“Dari situ saya dan teman-teman mulai berpikir bagaimana mengubah limbah yang tidak bernilai menjadi sesuatu yang bermanfaat dan punya nilai ekonomi,” ujar Fajar, Senin (15/12).
Melalui pendekatan upcycling, kresek dan trashbag dikumpulkan, dibersihkan, dipilah sesuai warna, lalu dipres menjadi lembaran tebal dengan motif unik yang muncul secara alami. Lembaran tersebut kemudian diolah menjadi tote bag, handbag, dan slingbag tidak ada dua tas yang sama, sehingga memiliki nilai artistik tersendiri.
“Kami ingin menunjukkan kalau sampah yang dianggap tidak berguna itu sebenarnya bisa disulap jadi produk yang keren dan punya nilai jual,”
tutur Fajar.
Proses produksi tidaklah mudah, dengan tantangan seperti suhu mesin press yang tidak stabil dan lembaran plastik yang tidak seragam. “Kadang ada bagian yang malah bolong atau motifnya nggak bisa maksimal. Itu bikin kami harus menyesuaikan desain dengan bahan yang ada,” jelasnya.
Baca Juga: Ini Opsi Kemenhaj Untuk Asrama Haji Jika Bandara Dhoho Kediri Sebagai Keberangkatan Jemaah Haji 2027
Produk Revoplast memiliki keunggulan tahan air, visual khas, dan harga terjangkau, sambil membawa misi keberlanjutan yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab) dan poin 13 (Tindakan Iklim).
“Kami menggunakan 100 persen plastik pascakonsumsi. Setiap produk membantu mengurangi beban TPA sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya daur ulang,” ungkap Fajar.
Ke depan, tim menargetkan diversifikasi produk ke pouch, tas laptop, dan aksesori fashion lainnya, serta kolaborasi dengan desainer lokal, brand ramah lingkungan, dan toko wisata. Mereka juga merencanakan peningkatan peralatan produksi, pemasaran melalui e-commerce dan reseller, serta skema closed-loop melalui program take-back product.
“Kami terus mengembangkan Revoplast, bukan hanya untuk menghasilkan produk fashion, tetapi untuk membangun gerakan keberlanjutan yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” pungkasnya. (*)