Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pastikan Stok Bapok Aman, Pemkot Surabaya Punya Cara Khusus Kendalikan Harga Cabai Rawit

Dimas Mahendra • Jumat, 12 Desember 2025 | 20:53 WIB
Gerakan pangan murah serentak di Surabaya. Mangantisipasi kenaikan harga bahan pokok jelang akhir tahun. (IST)
Gerakan pangan murah serentak di Surabaya. Mangantisipasi kenaikan harga bahan pokok jelang akhir tahun. (IST)

RADAR SURABAYA — Menjelang Natal dan Tahun Baru 2025, Pemerintah Kota
(Pemkot) Surabaya memilih pendekatan yang tidak biasa dalam menjaga  stabilitas harga pangan. Hal itu ialah menggerakkan panen massal cabai rawit hasil pembagian 25.000 bibit kepada masyarakat dan kelompok tani. Langkah ini menjadi penyeimbang alami ketika harga cabai rawit melonjak tajam akibat cuaca ekstrem.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya, Antiek Sugiharti, memastikan ketersediaan pangan di Surabaya sangat aman.
Namun yang paling menarik, strategi penguatan produksi lokal membuat
warga kini ikut menjadi produsen cabai di rumah masing-masing.

“Pembagiannya melalui kelurahan dan kecamatan untuk warga. Karena
kami sudah menghitung mundur melakukan pembibitan dan kami bersama
dengan kelompok tani menanam serentak di bulan Agustus. Sekarang
sebagian besar di bulan ini (Desember 2025) sudah panen” ujar Antiek.

Berdasarkan data DKPP per 10 Desember 2025, harga cabai rawit di Surabaya mencapai Rp 70 ribu per kilogram, naik dari kisaran Rp 42–46 ribu pada akhir November. Kenaikan ini terjadi hampir di seluruh Jawa Timur dan Indonesia.

“Jadi tidak terjadi kenaikan yang signifikan, tapi ada beberapa komoditas yang memang mengalami kenaikan. Diantaranya adalah yang naik agak lumayan itu cabai rawit. Di beberapa daerah itu ada yang sampai Rp 100 ribu per kilogram ya memang. Karena cuaca ya, itu salah satu faktornya,” jelas Antiek.

Namun, berbeda dari daerah lain, Surabaya memiliki benteng penahan berupa panen dari bibit bantuan pemkot yang mulai dipetik warga sejak Desember.

Pemkot Surabaya membagikan 25.000 bibit cabai rawit sejak Agustus hingga awal September 2025. Bibit itu disalurkan melalui kelurahan, kecamatan, hingga komunitas urban farming. Kini, sebagian besar sudah panen.

“Dua pohon saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga.
Bahkan ada yang panen satu kilo tiga ons dari dua polybag,” kata Antiek.

Hasil panen rumah tangga ini membuat permintaan cabai dari pasar
menurun, sehingga tekanan harga di Surabaya bisa lebih terkendali
dibanding daerah lain.

Selain cabai rawit, hampir semua komoditas pangan menurut dia tetap
stabil menjelang akhir tahun. Sebutlah seperti daging ayam ras:
Rp 37.000/kg, lalu telur ayam ras: Rp28.000/kg dan cabai merah besar:
fluktuatif ringan di kisaran Rp 44–48 ribu/kg.


“Secara prinsip, hanya cabai rawit yang naik cukup lumayan. Yang lain
stabil dan ketersediaannya aman,” tegas Antiek.

Ia mengimbau warga untuk tidak memborong bahan makanan berlebihan
agar tidak menimbulkan food loss maupun kepanikan pasar. DKPP sendiri bersama lintas OPD juga menurut dia bersiap menggelar pemantauan intensif di pasar tradisional dan modern.

“Kami memastikan tidak ada barang kadaluarsa, harga tetap terkendali,
dan stok cukup untuk kebutuhan Nataru,” kata Antiek.

Ada 12 komoditas penting yang dipantau, termasuk daging sapi, ayam,
telur, gula, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, hingga
kedelai. “Insyaallah ketersediaan kita aman. Belanjalah dengan bijak dan
seperlunya,” pungkasnya. (dim)

Editor : Lambertus Hurek
#urban farming #bahan pokok #Antiek Sugiharti #cabai rawit #Natal dan Tahun Baru