RADAR SURABAYA - Balai RW Tuwowo, Tambaksari, Surabaya, nampak sibuk selama empat bulan terakhir.
Tempat ini menjadi ruang belajar bagi sembilan ibu-ibu yang sebagian besar berasal dari keluarga miskin (Gamis) yang mengikuti pelatihan menjahit dan membuat baju.
Pelatihan ini digelar untuk memberdayakan warga, terutama mereka yang memiliki keinginan kuat belajar menjahit namun tidak memiliki kemampuan biaya maupun perlengkapan.
Program tersebut menghadirkan Novita Rahayu, desainer asal Surabaya sekaligus pemilik brand Vira Collection, sebagai pemberi materi pelatihan.
Ia mendampingi para ibu dari tahap paling dasar, mulai membuat pola hingga merancang baju lengkap.
“Sebagian besar peserta awalnya belum bisa menjahit sama sekali. Di sini saya ajarkan langkah demi langkah. Sekarang mereka sudah bisa membuat baju sendiri,” ujar Novita, Rabu (10/12).
Selama empat bulan, kelas berlangsung dua kali setiap minggu. "Kadang para peserta juga sering mengadakan pertemuan tambahan di luar jadwal resmi untuk berlatih bersama," tambah Novita.
Pelatihan ini mendapat dukungan penuh dari PLN, mulai dari penyediaan mesin jahit hingga bahan kain.
Setiap peserta dipilih oleh warga melalui RW, dengan prioritas ibu-ibu yang ingin belajar menjahit namun tidak memiliki mesin jahit.
Dalam kurun empat bulan, mereka telah membuat empat jenis baju, mulai dari blouse hingga gamis karena menjelang Lebaran. Baju keempat dibuat bebas sebagai ujian akhir kelas.
Program ini juga ditutup dengan penyerahan sertifikat layaknya wisuda kecil, sebagai bentuk apresiasi atas usaha dan konsistensi para peserta.
Kini, para lulusan pelatihan tergabung dalam Kelompok Usaha Cahaya Sartika Dewi, kelompok usaha masyarakat yang diharapkan dapat terus berkembang dan menghasilkan karya.
Salah satu peserta, Ariana, mengaku banyak belajar dari proses ini.
“Kadang sudah dijahit, ada yang salah, akhirnya dibongkar lagi. Tapi setelah diperbaiki rasanya lebih puas. Saya belajar dari nol, mai mengukur, memotong kain, sampai bisa membuat empat baju dengan model berbeda,” tuturnya.
Ia berharap keterampilan ini dapat menjadi sumber penghasilan baru bagi dirinya dan peserta lainnya.
“Meskipun kelasnya lama, tapi kami senang. Semoga setelah bisa menjahit, kami bisa mendapatkan pemasukan,” tambahnya.
Program pelatihan menjahit ini diharapkan menjadi langkah awal pemberdayaan ekonomi warga, sekaligus membuka kesempatan baru bagi ibu-ibu Tambaksari untuk mandiri secara finansial. (sam)
Editor : Nofilawati Anisa