RADAR SURABAYA - Ftalat, senyawa kimia dalam plastik yang berperan sebagai Endocrine Disrupting Chemicals (EDCs), menimbulkan ancaman serius karena berpotensi mengganggu fungsi hormonal dan metabolisme tubuh manusia.
Menurut peneliti dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. Lestari Sudaryanti, dr. M.Kes, pekerja penyortir sampah merupakan kelompok dengan risiko paparan tertinggi.
“Pekerja perempuan penyortir sampah terpapar langsung dengan limbah plastik setiap hari,” ungkap Lestari, Selasa (9/12).
Ia menambahkan, ftalat masuk ke tubuh melalui inhalasi dan kontak kulit. Penelitian yang dilakukan olehnya menunjukkan fenomena yang tidak biasa.
“Mayoritas responden berada dalam kategori obesitas dan overweight, padahal mereka berasal dari komunitas berpenghasilan rendah dan bekerja dengan aktivitas fisik yang tinggi. Ini menunjukkan ada sesuatu yang tidak biasa,” jelasnya.
Data deskriptif penelitian menemukan 37 persen responden mengalami hipertensi dan 8 persen menunjukkan indikasi diabetes.
Hal ini memunculkan dugaan bahwa paparan bahan kimia dari plastik berkontribusi signifikan terhadap gangguan metabolik.
Lestari menjelaskan, ftalat meniru hormon estrogen dan mengganggu keseimbangan tubuh.
“Ftalat bertindak dengan meniru estrogen, mengganggu aktivitas reseptor estrogen, dan mengacaukan sistem hormon reproduksi perempuan,” tuturnya.
Lebih jauh, paparan ftalat menyebabkan resistensi insulin yang meningkatkan kadar gula darah dan risiko diabetes tipe dua, serta mengakibatkan penumpukan lemak visceral karena konversi glukosa menjadi lemak.
Yang lebih mengkhawatirkan, efek paparan tidak hanya langsung namun juga memengaruhi generasi mendatang.
“Paparan ftalat terutama pada periode perkembangan awal dapat menyebabkan perubahan epigenetik yang meningkatkan kerentanan obesitas pada generasi sekarang dan mendatang,” ujarnya.
Lestari menegaskan pentingnya perlindungan kesehatan pekerja perempuan di sektor pengelolaan sampah.
Kesehatan pekerja perempuan harus ditingkatkan karena dampaknya jauh lebih serius.
“Penelitian harus terus dikembangkan untuk menemukan solusi terbaik menghilangkan plastik dari tubuh manusia dan dari lingkungan,” pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa