RADAR SURABAYA - Memasuki peralihan musim timur ke musim barat, nelayan di pesisir Surabaya kembali dihadapkan dengan perubahan cuaca hingga arus laut. Ritme melaut berubah, begitu pula strategi menangkap ikan. Di sisi lain, para nelayan juga dihadapkan dengan hasil tangkapan ikan yang naik-turun serta risiko bahaya ketika mesin perahu mati di tengah lautan.
Perahu Melawan Angin
Memasuki musim barat, angin kini bertiup dari arah berlawanan dengan posisi geografis kawasan Nambangan yang menghadap ke timur. Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Surabaya Achmad Sukron mengatakan, situasi itu membuat perjalanan pulang para nelayan semakin berat karena perahu harus melawan angin dari barat.
”Banyak nelayan bahkan harus berhenti menebar jaring lebih awal karena perubahan angin datang tiba-tiba,” katanya kemarin (4/12).
Sedimentasi di Tepian
Selain angin, kondisi air laut di tepian pesisir juga menjadi tantangan baru. Nelayan harus mendorong perahu ke tengah sebelum malam tiba agar tidak terjebak saat surut. Kebiasaan ini tidak berlaku pada musim timur, namun kini jadi kewajiban.
Bahkan, pada hari-hari tertentu, ketinggian air terlalu rendah hingga perahu sulit digerakkan. ”Harus ditengahkan dulu, karena ada sedimentasi di tepian,” sambungnya.
Terpaksa Pulang Lebih Awal
Cuaca yang berubah dengan cepat dan disertai angin besar membuat nalayan terpaksa pulang lebih awal meski baru sampai. Sebab, perahu akan mudah terdorong dan gelombang besar dapat merusak bagian bawah kapal. ”Risikonya tinggi, akhirnya lebih pilih kembali apalagi petir bisa muncul kapan saja,” tuturnya.
Kondisi pun dijelaskan Sukron akan semakin berisiko ketika mesin perahu mati mendadak di tengah laut. Tanpa dorongan mesin, nelayan hanya bisa menunggu bantuan teman.
Pola Keberangkatan Berubah
Perbedaan musim ini turut memengaruhi pola keberangkatan para nelayan. Sukron menyebut, untuk nelayan jaring dan penyelam biasa berangkat pukul 05.00. Sedangkan nelayan petorosan harus menunggu momentum arus yang pas. Jam berangkat bisa berubah, mulai 19.00 malam atau pun 20.00. ”Untuk jam pulang biasanya pukul 13.00-14.00, kecuali jika cuaca memburuk,” lanjutnya.
Hasil Fluktuatif
Soal tangkapan, hasilnya fluktuatif. Di kondisi buruk, nelayan biasa hanya membawa pulang 10 kilogram atau bahkan nihil. Namun saat peruntungan datang, tangkapan bisa menembus satu kuintal. Secara umum, dalam musim barat pendapatan berkisar 20-30 kilogram per hari. Di sisi lain, Sukron mengatakan, peralihan alat tangkap juga terjadi, termasuk saat permintaan kerang hijau sedang lesu, sehingga banyak penyelam beralih memakai metode jaring. (dho/ama/vga)
Editor : Vega Dwi Arista