RADAR SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai menyiapkan terobosan baru untuk mempercepat langkah menuju predikat UNESCO Creative City.
Caranya ialah dengan menghadirkan Kartografi Kreatif, peta digital yang memetakan seluruh potensi ekonomi kreatif kota secara detail dan mudah diakses publik.
Inovasi ini dipresentasikan dalam forum Creative Dialogue: Surabaya Dalam Kartografi Kreatif di Universitas Ciputra (UC).
Peta kreatif tersebut akan menjadi kompas utama bagi wisatawan, investor, pelaku ekraf, hingga akademisi untuk membaca kekuatan, peluang, dan titik-titik penting sektor kreatif Surabaya—mulai dari kuliner, seni, fashion, hingga kriya.
Kepala Bappedalitbang Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajat, mengungkapkan, Surabaya kini memiliki 1.996 pelaku ekonomi kreatif, dengan empat subsektor terbesar yakni kuliner (gastronomi), fashion, seni pertunjukan, dan kriya.
“Kuliner berada di posisi tertinggi. Turis yang datang ke Surabaya pasti mencari makanannya, rawon setan, rujak cinggur dan lainnya,” jelas Irvan, Jumat (5/12).
Karena itu, gastronomi disiapkan menjadi subsektor unggulan untuk mendorong Surabaya masuk jaringan kota kreatif dunia UNESCO.
Irvan menegaskan, tidak mungkin Surabaya menjadi kota kreatif dunia tanpa kolaborasi total.
Karena itu, Pemkot Surabaya menggerakkan kerja sama tujuh unsur Hepta Helix: pemerintah, pengusaha, akademisi, NGO, media, komunitas, dan konsumen.
“Pemerintah berperan sebagai inisiator dan fasilitator, akademisi sebagai sumber inovasi, pengusaha sebagai penggerak investasi, sedangkan media, komunitas, dan NGO menjadi platform promosi. Konsumen adalah elemen paling krusial untuk menentukan arah pasar,” ujarnya.
Produk kreatif yang dihasilkan harus sesuai kebutuhan dan selera pasar, sehingga layak dan berkelanjutan.
Untuk memastikan ekosistem kreatif tumbuh tepat sasaran, Pemkot menggandeng perguruan tinggi, termasuk Universitas Ciputra, untuk membuat Kartografi Kreatif, peta spasial yang menampilkan titik-titik gastronomi unggulan, lokasi pusat seni pertunjukan, kawasan kriya dan sentra fashion, ruang publik kreatif, hingga kawasan wisata yang sedang direvitalisasi.
“Peta ini akan menjadi panduan yang mudah diakses wisatawan maupun investor, sehingga mereka bisa melihat kekuatan kreatif Surabaya secara menyeluruh,” kata Irvan.
Irvan juga menyampaikan Pemkot Surabaya membuka peluang kolaborasi luas dengan perguruan tinggi melalui KKN berbasis solusi untuk menangani persoalan kampung, inkubasi kreatif berbasis teknologi, serta pemanfaatan Hi-Tech Mall yang segera dibuka kembali sebagai creative space.
“Kami ingin kampus menjadi agen perubahan. Kota ini harus menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa,” tegasnya.
Irvan tak menutup mata bahwa sektor ekraf juga menghadapi hambatan, terutama kenaikan harga sewa di kawasan-kawasan baru seperti Kota Lama dan Jalan Tunjungan.
“Ada fenomena ‘aji mumpung’ yang membuat calon investor kesulitan masuk. Kami menerima masukan akademisi untuk menyiapkan regulasinya dengan lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Rektor UC, Wirawan Endro Dwi Radianto, menegaskan dukungan penuh terhadap langkah Pemkot Surabaya.
“Kami siap menjadikan Kota Surabaya sebagai laboratorium yang hidup untuk berkolaborasi, bereksperimen, dan menciptakan hal-hal baru yang kreatif,” ujarnya.
Dengan lahirnya peta kreatif digital dan penguatan ekosistem hepta helix, Surabaya diharapkan semakin mempercepat langkah untuk menempatkan diri sebagai kota kreatif berkelas dunia.
Bukan hanya sebagai pusat ekonomi, tetapi juga pusat inovasi yang berkelanjutan. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa