Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

SMA Kristen Petra 5 Surabaya, Peneliti Muda Kembali Berkilau Lewat Inovasi Biofoam Ramah Lingkungan

Indra Wijayanto • Minggu, 7 Desember 2025 | 00:05 WIB
GEMILANG: Tiga siswa SMA Kristen Petra 5 di panggung Nalatico 2025. Karya ilmiah mereka meraih medali emas sekaligus predikat Best Project untuk kategori  Ilmu Pengetahuan Alam dan Environmental.
GEMILANG: Tiga siswa SMA Kristen Petra 5 di panggung Nalatico 2025. Karya ilmiah mereka meraih medali emas sekaligus predikat Best Project untuk kategori Ilmu Pengetahuan Alam dan Environmental.

RADAR SURABAYA - SMA Kristen Petra 5 Surabaya kembali menegaskan predikatnya sebagai sekolah peneliti muda. Setelah sebelumnya tiga siswa kelas XII menyabet medali emas di ajang FIKKIA IMPACT 2025, kini giliran tiga siswa kelas XI yang mencatat prestasi gemilang di panggung nasional.

Mereka adalah Aufa Raya Shaffa Ramadhani, Calvin Tanardhi Setiawan, dan Fernando Theodosius. Ketiganya sukses meraih medali emas sekaligus predikat Best Project untuk kategori Ilmu Pengetahuan Alam dan Environmental dalam ajang Nala Technology and Science Competition (Nalatico), yang berlangsung di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya pada 29–30 November 2025.

Inspirasi penelitian ini berawal dari sesuatu yang sederhana yaitu buah Butun (Barringtonia asiatica) yang tumbuh di lingkungan sekitar sekolah. Dari rasa penasaran itulah lahir sebuah penelitian yang akhirnya mengantarkan mereka naik panggung juara.

“Kami ingin membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap biasa, seperti buah yang tumbuh di sekitar sekolah, sebenarnya punya potensi besar untuk dijadikan inovasi,” ungkap Aufa, ketua tim.

Penelitian diawali dengan pengambilan buah Butun yang kemudian dicuci bersih dan dipisahkan antara daging buah serta bijinya. Daging buah Butun kemudian dikeringkan pada suhu 60°C hingga mencapai bobot konstan. Setelah kering, daging buah tersebut dihaluskan menggunakan blender dan diayak dengan saringan 80 mesh untuk memperoleh biomassa Butun yang halus dan homogen.

Biomassa inilah yang menjadi bahan utama pembuatan biofoam. Dengan metode Desain Eksperimen Laboratorium, tim memformulasikan campuran biomassa Butun, pati, gliserol, dan binder, kemudian menguji karakteristik fisika-kimia-biologis produk yang dihasilkan.

Menurut Calvin, proses penelitian ini bukan hanya soal eksperimen, tetapi juga soal ketekunan. “Bagian tersulit itu menjaga konsistensi data. Kami melakukan pengulangan beberapa kali supaya hasilnya valid. Tapi justru dari situ kami banyak belajar ketelitian,” ujarnya kepada Radar Surabaya.

CURI PERHATIAN: Tim peneliti muda SMA Kristen Petra 5 menjelaskan proses pembuatan biofoam berbahan buah Butun. Produk ramah lingkungan ini mencuri perhatian dewan juri.(IST/RADAR SURABAYA)
CURI PERHATIAN: Tim peneliti muda SMA Kristen Petra 5 menjelaskan proses pembuatan biofoam berbahan buah Butun. Produk ramah lingkungan ini mencuri perhatian dewan juri.(IST/RADAR SURABAYA)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Biofoam Barringtonia asiatica memiliki karakteristik yang aman dan ramah lingkungan. Uji toksisitas menunjukkan kategori Non-Toxic, sehingga berpotensi digunakan sebagai kemasan pangan. Dari sisi lingkungan, biofoam memiliki laju biodegradabilitas 22,85%, diperkuat oleh temuan gugus O-H pada uji FTIR yang menandakan sifat mudah terurai secara hayati.

Secara fisik, biofoam menunjukkan kekuatan tarik 3,5 MPa dan penyerapan air rendah (11%), meskipun densitas yang masih tinggi (2,3 g/cm³) membuka peluang penelitian lanjutan untuk membuat material lebih ringan.

“Waktu melihat hasil uji biodegradabilitasnya cukup tinggi, kami benar-benar merasa usaha selama ini terbayar. Senang rasanya bisa membuat sesuatu yang bukan hanya inovatif, tapi juga berdampak untuk lingkungan,” tambah Fernando dengan semangat.

Sementara itu, guru pembimbing, Ninik Suprapti, mengapresiasi kegigihan ketiga siswa ini. “Mereka bukan hanya bekerja keras, tetapi juga menunjukkan rasa ingin tahu yang besar. Itu ciri peneliti sejati,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penelitian ini terus diperbaiki agar ke depannya bisa masuk tahap pengembangan lebih lanjut. “Masih ada ruang optimasi, terutama soal densitas. Tapi potensi biomassa Butun sangat besar dan ini bisa jadi pintu masuk penelitian lanjutan," urai Ninik.

Kepala SMA Kristen Petra 5, Cahyo Fajariati, menyampaikan kebanggaannya. Ia menegaskan bahwa riset seperti ini adalah bagian dari budaya ilmiah yang terus didorong di sekolah.

INOVASI: Butun Foam, kemasan ramah lingkungan berbahan buah Butun. Kreasi ini menjadi salah satu proyek yang paling banyak menarik perhatian pengunjung.(IST/RADAR SURABAYA)
INOVASI: Butun Foam, kemasan ramah lingkungan berbahan buah Butun. Kreasi ini menjadi salah satu proyek yang paling banyak menarik perhatian pengunjung.(IST/RADAR SURABAYA)

“Prestasi ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi pembentukan karakter, berpikir kritis, kreatif, dan peduli pada tantangan global,” pesannya 

Prestasi Aufa, Calvin, dan Fernando menjadi bukti bahwa inovasi besar bisa lahir dari kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Dari buah yang sering terabaikan, mereka berhasil menciptakan biofoam potensial sebagai pengganti Styrofoam.

Dan sekali lagi, SMA Kristen Petra 5 membuktikan diri sebagai tempat tumbuhnya para peneliti muda yang siap berkontribusi bagi masa depan Indonesia. (ind/gun)

Editor : Guntur Irianto
#medali emas #Terbaik #Bio #swasta #penelitian #Butun #buah #di surabaya #sekolah #lomba #pemenang #favorit #Meneliti #peneliti #Berita Pendidikan Terbaru #pendidikan #best #Berita Pendidikan #kejuaraan #Berita Pendidikan Hari Ini #SMK Kristen Petra Surabaya #project #juara