RADAR SURABAYA – Menjelang Natal 2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menghadirkan dekorasi tematik di berbagai ruang publik bukan sekadar untuk memeriahkan perayaan, tetapi sebagai strategi memperkuat citra Surabaya sebagai Kota Toleransi yang inklusif dan ramah wisatawan.
Kebijakan ini juga menjadi bagian dari upaya besar Surabaya memadukan city branding, pengembangan pariwisata, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu gerakan yang melibatkan pemerintah dan sektor swasta.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Surabaya, Myrna Augusta Aditya Dewi, mengatakan pemasangan dekorasi Natal telah menjadi simbol keterbukaan Surabaya terhadap semua perayaan keagamaan.
“Pemkot Surabaya sejak awal menggaungkan Surabaya sebagai kota toleransi. Setiap hari besar keagamaan dirayakan bersama melalui dekorasi tematik yang sesuai, termasuk Natal di bulan Desember ini,” ujarnya.
Tahun ini, titik-titik utama seperti Balai Kota, Balai Pemuda, kawasan Tunjungan, serta koridor Jalan Panglima Sudirman hingga Monumen Bambu Runcing dipenuhi pohon Natal, lampu tematik, dan ornamen kado raksasa. Pemkot juga merencanakan perluasan dekorasi hingga Jembatan Yos Sudarso sebagai spot baru wisata malam.
Dekorasi tersebut tidak hanya memperindah kota, tetapi dirancang sebagai magnit destinasi wisata akhir tahun, meningkatkan kunjungan lokal maupun luar daerah.
“Tujuan akhirnya adalah menghidupkan suasana kota, meningkatkan kunjungan, dan menggerakkan aktivitas perdagangan masyarakat,” jelas Myrna.
Pemkot juga menggandeng mal, pusat perbelanjaan, dan hotel untuk memasang dekorasi Natal secara serempak. Kolaborasi ini disebut sebagai langkah strategis membangun narasi bersama tentang toleransi dan keterbukaan Kota Surabaya.
“Dekorasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Kami mengajak sektor swasta untuk ikut terlibat sehingga estetika kota tampak serempak dan terasa dimiliki bersama,” tambah Myrna.
Baca Juga: PSM Makassar vs Persebaya Surabaya: Skuad Green Force Optimistis Curi Poin di Kandang PSM Makassar
Sinergi ini disebut akan terus dilakukan pada seluruh hari besar keagamaan, termasuk Idul Fitri, Idul Adha, dan perayaan lainnya. Pemkot juga memastikan setiap pemasangan dekorasi tidak menimbulkan masalah baru, khususnya sampah. Seluruh pihak yang membuat dekorasi diwajibkan membongkar dan membersihkan kembali area setelah perayaan.
Namun Myrna mengakui ada tantangan besar penggunaan bahan ramah lingkungan untuk dekorasi luar ruang yang biasanya membutuhkan material kuat dan tahan cuaca.
“Ke depan, kami akan terus mendorong penggunaan bahan daur ulang untuk elemen dekorasi tertentu agar aspek lingkungan tetap terjaga,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar ornamen, dekorasi Natal di Surabaya menjadi bagian dari upaya menghadirkan kota yang aman, terbuka, dan nyaman bagi semua. Nilai toleransi yang dirayakan melalui ruang publik ini diyakini mampu menjadi kekuatan sosial sekaligus daya saing pariwisata.
“Nilai toleransi bukan hanya fondasi, tetapi juga magnet wisata yang menggerakkan roda perekonomian lokal,” pungkasnya. (dim/gun)
Editor : Guntur Irianto