RADAR SURABAYA- Di tengah gempuran camilan kekinian, siapa yang masih ingat aroma harum kue semprit yang dulu selalu hadir di meja tamu?
Bentuknya sederhana, rasanya renyah, tapi perlahan kue tradisional itu menghilang dari ingatan banyak orang, terutama generasi muda. Bagi sebagian Gen Z, nama “kue semprit” bahkan terdengar asing.
Namun, bagi Audy Sesarisma, mahasiswi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), hilangnya kue semprit dari perbincangan publik justru menjadi pemantik kreativitas.
Ia merasa ada sesuatu yang harus “ditolong” agar tidak benar-benar hilang dari budaya kuliner Nusantara.
Dari sinilah lahir gagasan untuk membangkitkan kembali kue semprit—bukan hanya lewat rasa, tetapi melalui pengalaman yang lebih modern dan dekat dengan dunia anak muda.
Awal Ide dari Kampung Lawas
Audy berkisah bahwa idenya bermula ketika ia berkunjung ke Kampung Lawas Maspati, Surabaya.
Di kawasan yang penuh jejak sejarah itu, ia menemukan bahwa banyak makanan tradisional yang hidup hanya dalam ingatan generasi sebelumnya.
“Bahkan saya sendiri, sebagai Gen Z, sadar bahwa kue semprit itu jarang sekali terdengar sekarang. Banyak teman-teman saya bahkan tidak tahu bentuknya seperti apa,” ujarnya sambil tersenyum mengingat momen itu.
Dari situlah ia mengambil tantangan dosennya: menciptakan kemasan produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mengangkat kembali kekayaan budaya lokal.
Lahirnya “Jaeja”: Kemasan yang Bercerita
Dalam waktu empat bulan, Audy merancang produk yang ia beri nama Jaeja Kue Kering Semprit Jahe.
Tidak sekadar kotak, kemasan itu dirancang untuk menyelesaikan persoalan klasik kue semprit yang mudah melempem. Material dan desainnya dipilih agar kue tetap renyah lebih lama.
Namun, inovasi sejatinya bukan hanya pada kemasan. Di dalam kotak, Audy menyelipkan komik mini—empat seri kartu ilustrasi yang menceritakan pengalaman lucu dan hangat saat menikmati kue semprit.
Ada humor ringan, nostalgia, dan pesan-pesan kecil tentang tradisi kuliner Nusantara.
“Kami ingin pembeli punya pengalaman lebih dari sekadar makan. Ada cerita dan kedekatan yang muncul saat membuka kemasan ini,” katanya.
Langkah sederhana itu membuat Jaeja tidak hanya menjadi camilan, tetapi medium interaktif yang mempertemukan tradisi dan generasi baru.
Menghidupkan Tradisi dengan Cara Kekinian
Proyek kecil ini membuka mata Audy bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan lewat hal-hal sederhana.
Tidak perlu muluk-muluk. Bahkan sekotak kue semprit bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, selama disampaikan dengan cara yang tepat.
Audy berharap produknya kelak bisa mendukung UMKM yang juga memproduksi kue tradisional, sehingga kue semprit bisa kembali hadir di banyak meja—bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
“Budaya tidak harus kaku. Ia bisa tampil menarik dan relevan bagi siapa pun, termasuk Gen Z,” tuturnya.
Di tangan Audy, kue semprit bukan lagi sekadar kue kecil berbentuk bunga. Ia menjelma cerita, pengalaman, dan pengingat bahwa tradisi kuliner Indonesia punya banyak kisah yang layak diceritakan kembali.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan