Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Cerita Pilu Angga, ODHIV yang Berjuang Sembuh, Butuh Empat Tahun untuk Diterima Keluarga

Rahmat Sudrajat • Kamis, 4 Desember 2025 | 23:13 WIB
BACA: Stigma negatif kerap didapatkan oleh ODHIV. Butuh perjuangan keras untuk bisa diterima kembali di keluarga dan lingkungan.
BACA: Stigma negatif kerap didapatkan oleh ODHIV. Butuh perjuangan keras untuk bisa diterima kembali di keluarga dan lingkungan.

"Mereka yang berhubungan seks berisiko tanpa kondom dan sering berganti pasangan wajib tes HIV untuk menjaga diri.”

Angga
ODHIV

RADAR SURABAYA - Di tengah stigma negatif yang kerap melekat pada Orang dengan HIV (ODHIV), seorang pria, sebut saja namanya Angga, membuktikan bahwa ODHIV dapat hidup produktif dan menginspirasi.

Didiagnosis positif HIV sejak tahun 2014 akibat perilaku seks sesama jenis, Angga kini aktif memberikan penyuluhan dan pendampingan bagi ODHIV lainnya.

"Awalnya saya kira sakit biasa saja. Panas, batuk, dan sariawan. Sempat disuruh tes HIV, tapi saya pikir tidak mungkin karena merasa sehat," cerita Angga, Kamis (4/12).

Namun, saat mengalami herpes di bagian perut, Angga memberanikan diri memeriksakan diri ke Puskesmas Perak Timur Surabaya.

Hasilnya di luar dugaan, Angga mendapati hasil kalau ia positif HIV.

Angga awalnya rutin mengonsumsi obat. Namun, ia sempat berhenti karena merasa bosan, yang mengakibatkan penyakitnya kambuh dan ia harus dirawat intensif di rumah sakit.

"Saya sempat sakit lagi karena tidak minum obat teratur. Saya opname di rumah sakit dan akhirnya minum obat secara teratur," ujarnya.

Kondisi Angga akhirnya diketahui oleh keluarga yang membesuk saat ia dirawat di rumah sakit.

Angga yang dibesarkan dan bersekolah di lingkungan pesantren di Situbondo dan keluarga yang agamis, membuatnya harus terkucilkan dalam lingkungan keluarga.

Keluarga besarnya terpukul mengetahui kondisi Angga yang ternyata mempunyai orientasi seksual dengan sesama jenis. Bahkan, ia sempat dirukyah agar bisa berubah.

"Waktu opname di rumah sakit, keluarga datang semua. Mereka kaget tahu saya HIV. Dokter sudah menjelaskan bahwa tidak menular kecuali melalui hubungan seks. Tapi namanya orang desa, jadi mereka jijik dan mengucilkan. Sendok, sabun, handuk, bahkan tempat tidur dipisahkan. Dari situ timbul motivasi untuk sehat dan kembali bekerja," jelasnya.

Dengan dukungan ibunya, seorang guru SD, Angga terus memacu semangat untuk sembuh dan membuktikan diri kepada keluarga.

Ia rutin minum obat, kontrol, dan melakukan aktivitas positif. Setelah empat tahun berjuang, Angga akhirnya diterima kembali oleh keluarganya.

"Aku sekarang sudah sehat dan keluargaku sudah mulai terbuka, tapi itu butuh proses empat tahun," ujar pria 37 tahun ini.

Sejak 2019, Angga terjun menjadi aktivis HIV. Ia berjuang untuk memberikan penyuluhan tentang bahaya HIV, membangkitkan semangat ODHIV lainnya, serta mengurangi stigma dan diskriminasi melalui edukasi dan pendampingan.

"Saya melakukan pendampingan, memotivasi rekan sebaya. Kalau positif HIV, jangan sampai terpuruk," tutur Angga.

Selama melakukan pendampingan, Angga menemukan ODHIV dari kalangan pelajar SMA di Surabaya.

Ia menekankan pentingnya peran orang tua dan filter pertemanan.

"Anak-anak sekarang pintar karena teknologi. Banyak aplikasi untuk bertemu, jadi mereka gampang berteman," ungkapnya.

Angga juga mengingatkan pentingnya tes HIV bagi mereka yang berisiko.

"Mereka yang berhubungan seks berisiko tanpa kondom dan sering berganti pasangan wajib tes HIV untuk menjaga diri," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#hidup produktif #puskesmas #positif hiv #pendampingan #ODHIV #Perak Timur #Radar Surabaya #penyuluhan