RADAR SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya memastikan panen perdana ikan nila dan sayur hidroponik di Taman Teman Jemursari bukan hanya seremoni. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa program hibah Australia Direct Aid Program (DAP) 2024–2025 akan dijadikan model besar pemberdayaan perempuan berbasis teknologi.
Model ini akan diperluas ke berbagai wilayah kota, sekaligus diproyeksikan memasok kebutuhan hotel, restoran, dan supermarket. Proyek ini memberdayakan ibu-ibu kelompok tani melalui teknologi recirculating aquaculture system (RAS) yang memungkinkan budidaya nila dan sayur organik dengan kualitas stabil.
Sebanyak 600 ekor nila dipanen pada tahap pertama, namun Wali Kota Eri menegaskan bahwa jumlah itu hanyalah permulaan dari rencana yang jauh lebih besar. Eri menekankan bahwa Taman Teman tidak boleh berhenti pada konsep “lokasi percontohan” yang hanya dipamerkan kepada tamu.
Ia menginginkan lokasi tersebut menjadi unit produksi berkelanjutan yang mampu menyuplai kebutuhan pasar. “Saya tidak ingin ini hanya tempat kunjungan. Saya ingin tempat ini mampu memproduksi sesuai kebutuhan hotel, restoran, dan supermarket,” ujar Eri ditemui usai panen perdana ikan nila tersebut.
Eri juga meminta Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan bersama Dinas Pariwisata untuk memetakan kebutuhan harian dunia usaha. Mulai dari selada air hingga nila segar. Tujuannya agar kelompok tani langsung bisa memenuhi permintaan pasar.
Program hibah ini menempatkan kelompok ibu-ibu di Wonocolo sebagai pelaku utama. Bagi Eri, model ini akan menjadi pola baru pengembangan ekonomi keluarga di Surabaya.
“Pemerintah kota tidak bisa bergerak sendiri. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan masyarakat akan melahirkan inovasi yang luar biasa,” tegasnya.
Pemkot sudah bersiap melakukan duplikasi model serupa di kecamatan lain dengan menggandeng lebih banyak kampus.
Sementara itu, Rektor UK Petra, Prof Rolly Intan, menegaskan bahwa panen perdana ini merupakan bukti bahwa teknologi, kolaborasi, dan ketekunan perempuan mampu menghadirkan transformasi nyata.
“Semangat ibu-ibu inilah kekuatan sejati proyek ini. Ini lebih dari panen, ini langkah menuju kemandirian pangan dan peningkatan ekonomi keluarga,” kata Rolly. (dim)
Editor : Lambertus Hurek