RADAR SURABAYA - Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini membawa perhatian baru pada situasi yang dihadapi Kota Surabaya. Bukan hanya fokus menekan kasus internal, Pemerintah Kota (Pemkot) justru kini menanggung tanggung jawab jauh lebih besar yakni melayani lonjakan tinggi pasien HIV dari luar daerah. Hal ini yang menjadikan Surabaya sebagai pusat rujukan kesehatan utama di Indonesia Timur.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan bahwa lebih dari separuh kasus HIV baru yang tercatat selama Januari–Oktober 2025 bukan berasal dari warga Surabaya, melainkan pendatang dari berbagai kota dan provinsi sekitar. Hal itu yang kemudian menyebabkan Surabaya kerap terlihat seolah memiliki kasus tinggi, padahal sebagian besar adalah pasien rujukan.
“Kasus baru HIV tahun 2025 hingga Oktober sekitar 52,48 persen adalah penderita dari luar Surabaya. Secara keseluruhan, kasus ini jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya mengalami penurunan di angka 10,03 persen,” ungkap Nanik.
Dia menyampaikan, meningkatnya mobilitas penduduk membuat Surabaya menjadi titik utama untuk tes, perawatan, hingga pengobatan HIV. Menyikapi kondisi tersebut, Dinkes pun memperluas akses layanan secara besar-besaran.
Saat ini, sebanyak 126 layanan tes HIV kini kini sudah tersedia di Surabaya. Layanan terbaik tersebar di 63 Puskesmas, 62 rumah sakit, dan 1 klinik utama. Jaringan layanan diperkuat untuk memastikan siapa pun, warga maupun pendatang, dapat menjalani pemeriksaan secara mudah.
Tes difokuskan pada kelompok berisiko tinggi seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, LSL, waria, ibu hamil, calon pengantin, serta pasien dengan penyakit menular seperti TBC.
Nanik menegaskan bahwa Puskesmas kini menjadi tumpuan layanan HIV karena mampu menangani semua tahapan, mulai deteksi, perawatan, hingga pemberian obat ARV. Layanan tes HIV ini telah terintegrasi dengan pemeriksaan lain seperti skrining TBC dan tes bagi calon pengantin dan ibu hamil.
Dalam upaya penanganan kasus HIV ini, edukasi menurut dia memiliki peranan penting. Oleh karena itu perlu kolaborasi lintas sektoral. Dinkes pun menurut dia sudah menggandeng Aliansi Surabaya Peduli AIDS (ASPA) dan kelompok pendamping sebaya untuk menjangkau kelompok berisiko yang sulit tersentuh.
Beberapa objek sasarannya ialah Kader kesehatan, Karang Taruna, hingga pelajar SMP dan SMA. Mereka mendapat penyuluhan rutin terkait HIV, bahaya pergaulan bebas, dan narkoba. “Kami bekerja sama dengan kelompok peduli HIV untuk edukasi, tes, dan pencegahan langsung di masyarakat,” kata Nanik.
Lebih jauh, meski data tahun 2025 menunjukkan penurunan kasus HIV sebesar 10,03 persen, Dinkes menilai tantangan lain justru makin kompleks. Di antaranya seperti stigma dan diskriminasi yang membuat sebagian ODHIV enggan berobat, kelompok berisiko tersembunyi seperti LSL yang sulit dijangkau, hingga ODHIV yang berhenti minum obat akibat efek samping atau kurangnya dukungan keluarga.
Stigma diakui menjadi hambatan utama dalam upaya pemkot memperluas skrining dan memastikan pengobatan berkelanjutan. Kendati begitu, Nanik menegaskan kalau Pemkot Surabaya tetap berkomitmen memberikan layanan kesehatan secara maksimal.
“Kami terus bekerja keras menghilangkan stigma dan memastikan setiap warga, termasuk pendatang, mendapatkan akses layanan kesehatan terbaik di Surabaya,” ujarnya. (dim/gun)
Editor : Guntur Irianto