Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mahasiswa Universitas Surabaya Ciptakan Alat Pendeteksi Gerd Berbasis IoT, Gunakan Air Liur Sebagai Indikator Utama

Andy Satria • Selasa, 2 Desember 2025 | 04:00 WIB
PENDETEKSI GERD: Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Ubaya, menunjukkan Pendeteksi Gerd berbasis IoT karyanya di kampus setempat.
PENDETEKSI GERD: Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Ubaya, menunjukkan Pendeteksi Gerd berbasis IoT karyanya di kampus setempat.

RADAR SURABAYA - Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya) menciptakan sebuah inovasi alat kesehatan bernama GerdMetric, perangkat pendeteksi dini penyakit Gerd (Gastroesophageal Reflux Disease) yang bekerja menggunakan dua indikator utama, air liur dan udara yang dihembuskan dari mulut.

Inovasi ini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) sehingga hasil pengukuran dapat diakses secara real-time melalui ponsel pintar.

Zizi Aulia Azzahra, Elisabet Maya Putri, dan Felicia Hartono, mahasiswa yang berhasil mengembangkan alat ini sebagai solusi praktis dan terjangkau bagi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia, mahasiswa perantau, serta pekerja yang tinggal jauh dari keluarga.

Zizi menyampaikan, tingginya kasus Gerd di Indonesia menjadi alasan utama lahirnya ide GerdMetric.

Banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan medis karena proses diagnosis masih bergantung pada metode pH Metri dan endoskopi yang mahal dan tidak mudah diakses.

“GerdMetric hadir sebagai opsi yang lebih terjangkau dan praktis. Kelebihannya terletak pada akurasi data karena menggunakan dua indikator sekaligus: pH pada air liur dan kandungan amonia (NH3) pada udara dari mulut,” jelas Zizi, Senin (1/12).

Cara kerja alat ini cukup sederhana. Pengguna hanya perlu menampung air liur di tabung kecil di bagian bawah perangkat dan menghembuskan napas ke sensor udara di bagian atas.

Dalam waktu 10 detik, layar akan menampilkan hasil pengukuran tingkat keasaman dan kadar amonia serta kesimpulan kondisi tubuh.

Jika terindikasi berbahaya, alat akan mengirimkan notifikasi otomatis ke ponsel pengguna, keluarga, atau rumah sakit terdekat.

Selain itu tersedia emergency button untuk mengirim sinyal darurat.

Zizi menambahkan, timnya masih membuka kesempatan pengembangan lebih lanjut agar alat ini dapat diproduksi secara massal.

“Kami berharap dukungan dari banyak pihak agar GerdMetric bisa dikenal luas dan membantu lebih banyak masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

Sementara itu dosen pembimbing sekaligus Ketua Program Studi Teknik Elektro Ubaya, Hendi Wicaksono Agung Darminto, Ph.D., mengapresiasi capaian mahasiswanya.

“Kami akan mengupayakan hak paten sederhana untuk GerdMetric agar dapat naik ke tahap pengembangan komersial,” terang Hendi. (sam/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#air liur #alat kesehatan #iot #deteksi #gerd #universitas surabaya #ponsel pintar #ubaya #Radar Surabaya