Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Lisa Drupadi Kembali ke Panggung Mode Surabaya, Hadirkan Koleksi “Goddess of Chaos” Berkolaborasi dengan Sang Putri

Andy Satria • Rabu, 26 November 2025 | 02:59 WIB
MITOLOGI YUNANI: Model memeragakan busana karya kolaborasi desainer ibu dan anak, Lisa Drupadi dan Bianca Purwadi, dalam pagelaran busana yang digelar di Tunjungan Plaza Surabaya, beberapa waktu lalu.
MITOLOGI YUNANI: Model memeragakan busana karya kolaborasi desainer ibu dan anak, Lisa Drupadi dan Bianca Purwadi, dalam pagelaran busana yang digelar di Tunjungan Plaza Surabaya, beberapa waktu lalu.

RADAR SURABAYA - Setelah vakum selama 10 tahun dari dunia runway, desainer Lisa Drupadi kembali dengan koleksi terbarunya bertajuk Goddess of Chaos yang ditampilkan dalam gelaran busana di Surabaya.

Menariknya, kali ini ia tidak tampil sendirian. Lisa menggandeng putrinya, Bianca Purwadi, dengan menghadirkan 11 rancangan yang memadukan nuansa etnik, glamor, dan sentuhan modern khas generasi muda.

Koleksi Goddess of Chaos terinspirasi dari kisah mitologi Yunani, terutama era para dewi yang identik dengan keanggunan dan kekuatan.

Dari sana, Lisa dan Bianca mengembangkan detail busana yang sarat simbol dan estetika masa itu, kemudian mengolahnya menjadi desain yang relevan bagi pecinta mode masa kini.

“Ini karya bersama Bianca setelah saya vakum sepuluh tahun. Dulu saya selalu bekerja sebagai desainer tunggal, tapi kini kami saling melengkapi. Bianca memahami selera generasi muda, sementara saya fokus pada cutting dan konstruksi busana,” ujar Lisa, Selasa (25/11).

Salah satu look utama koleksi ini adalah kebaya bergaya etnik glamor. Busana tersebut dibuat secara handmade dengan berat mencapai lima kilogram.

Bahan suede impor dipadukan dengan bordiran benang emas yang dikerjakan dengan pengawasan detail dari Bianca.

Warna merah, emas, dan hitam dipilih sebagai palet utama untuk menegaskan karakter kuat yang menjadi ruh tema Goddess of Chaos.

Proses perancangan koleksi ini diakui penuh tantangan, terutama karena harus menyelesaikan 11 look dalam waktu yang cukup singkat.

Perbedaan selera antara ibu dan anak juga kerap menimbulkan perdebatan kecil selama proses kreatif.

“Anak muda cenderung menyukai desain yang simpel dan wearable. Sementara generasi orang tua biasanya ingin detail yang kaya. Dari situlah kami berdiskusi dan akhirnya menemukan titik temu,” kata Lisa.

Sementara itu, Bianca mengatakan bahwa kolaborasi ini membawa misi untuk mengembalikan kepercayaan diri perempuan muda Indonesia dalam mengenakan busana tradisional.

“Sekarang tidak banyak yang ingin memakai kebaya. Dengan mengolah elemen tradisional menjadi lebih modern lewat payet dan bordiran, kami berharap lebih banyak anak muda tertarik dan bangga mengenakannya,” ujar Bianca.

Ia menjelaskan bahwa motif bunga pada koleksi tersebut digambar sendiri di atas kain, kemudian dikalkir dan dibordir secara freehand menggunakan benang emas.

Semua dilakukan untuk menjaga orisinalitas sekaligus nilai seni dari setiap busana.

Bianca menegaskan bahwa koleksi ini merupakan selebrasi untuk perempuan Indonesia yang kuat, elegan, dan berani menjadi dirinya sendiri.

“Keindahan itu tidak lahir secara instan, tetapi melalui proses. Lewat kolaborasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan,” pungkasnya. (sam/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#klasik #lisa drupadi #fashion #benang emas #busana #runway #Dewi #cutting gym #desainer #mitologi yunani #Radar Surabaya