Oleh: Sadiah S.Pd.I., M.Pd.I
Pengiat Literasi dan Direktur Utama PT. Indie Syafa Transforma
RADAR SURABAYA - Di tengah derasnya informasi, guru dan orang tua tidak lagi cukup menjadi pendidik, melainkan harus bertindak sebagai kurator nilai. Tugas mereka bukan hanya memberi tahu mana yang baik, tetapi membantu anak memilah mana yang layak dipercaya, ditiru, dan diikuti.
Guru perlu mengaitkan materi pelajaran dengan isu digital yang dialami siswa sehari-hari. Diskusi mengenai etika berkomentar, memahami jejak digital, atau menyikapi konten viral seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran modern. Sementara orang tua perlu menjadi teladan digital di rumah dengan membatasi penggunaan gawai, berdialog tentang apa yang dilihat anak, dan menunjukkan bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Tanpa kurasi, anak akan tenggelam dalam lautan konten yang bebas nilai. Tetapi dengan pendampingan, teknologi justru bisa menjadi jembatan pembentukan karakter bukan ancaman.
Pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa literasi digital. Anak perlu dibekali kemampuan memahami cara kerja media sosial, mengenali manipulasi algoritma, membedakan fakta dan opini, serta menilai dampak suatu konten pada diri sendiri dan orang lain.
Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis menggunakan aplikasi, melainkan kemampuan etis untuk berperilaku bijak di ruang digital seperti menyadari konsekuensi setiap unggahan, menghargai privasi orang lain, menahan diri dari tindakan impulsif, membangun citra diri yang autentik bukan dipaksakan dan menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya, bukan sekadar hiburan.
Di era digital, pendidikan karakter tidak dapat lagi dipisahkan dari pendidikan teknologi. Media sosial memang menghadirkan tantangan besar, tetapi juga membuka peluang luas untuk menanamkan nilai positif melalui konten inspiratif, komunitas kreatif, dan ruang kolaborasi.
Tantangannya kini adalah menjadikan anak bukan sekadar konsumen konten, tetapi pengguna yang bijak. Bukan korban algoritma, tetapi pribadi yang mampu mengarahkan dirinya.
Pendidikan karakter di era digital membutuhkan kerja bersama sekolah, keluarga, dan lingkungan dunia maya. Jika semua bergerak selaras, maka teknologi justru bisa menjadi mitra dalam membentuk generasi yang cerdas secara digital dan kuat secara moral.
Selamat Hari Guru Nasional. Semoga setiap langkah dan pengabdian menjadi cahaya bagi generasi masa depan. Hormat dan apresiasi setinggi-tingginya untuk semua guru yang terus menginspirasi. (*)
Editor : Guntur Irianto