RADAR SURABAYA - Tren perawatan kulit di Surabaya semakin bergerak menuju treatment yang fokus pada perbaikan skin barrier alias lapisan pelindung kulit.
Pola hidup yang serba cepat, paparan polusi, hingga kebiasaan harian generasi muda membuat kebutuhan akan perawatan non-invasif semakin meningkat.
CEO dan Founder Eons Skin Group, dr. Leni Kumala, Dipl AAAM, menjelaskan, kualitas kulit berawal dari kondisi skin barrier.
Lapisan terluar kulit ini bertugas melindungi dari debu, kotoran, hingga iritasi. Ketika bagian ini rusak, kulit lebih mudah mengalami komedo, jerawat, kemerahan, hingga tampak kusam.
“Pada dasarnya skin quality itu tergantung dari skin barrier. Kalau lapisan ini diperbaiki, kualitas kulit akan jauh lebih bagus. Namun proses memperbaiki skin barrier biasanya terasa sakit. Ini yang sering membuat orang enggan melakukan perawatan,” jelasnya.
Melihat kebutuhan tersebut, inovasi perawatan asal Korea yang menitikberatkan pada peningkatan skin quality melalui teknologi tanpa injeksi menjadi pilihan.
Program ini memungkinkan serum masuk ke dalam lapisan kulit tanpa rasa nyeri, sekaligus bekerja merangsang produksi kolagen.
“Pasien tidak merasakan sakit sama sekali. Fungsinya juga lebih banyak, bukan hanya untuk skin barrier tetapi juga memperbaiki elastisitas kulit,” tambah dr. Leni.
Salah satu inovasi yang kini menjadi unggulan adalah Redensity Glow Booster Infusion.
Treatment premium ini menggabungkan teknologi Collagen Stimulator Booster dengan sistem Selective Smart Microneedling Control System (SSMCS) yang disebut sebagai yang pertama di Indonesia.
Perawatan ini ditujukan untuk mengatasi berbagai masalah kulit seperti kusam, hiperpigmentasi, kemerahan, dehidrasi, tekstur tidak merata, hingga bekas jerawat.
Teknologi ini juga dapat digunakan untuk wajah, leher, dan tangan.
“Hasilnya sudah terlihat lima sampai tujuh hari setelah tindakan. Prosesnya minim nyeri, tanpa downtime, dan cocok untuk semua jenis kulit,” ujar dr. Leni.
Untuk hasil optimal, perawatan ini ideal dilakukan setiap tiga hingga empat minggu.
Selain faktor teknologi, kebiasaan harian seperti mandi air hangat, penggunaan make-up berlebihan, hingga pembersihan yang tidak tepat juga menjadi pemicu kerusakan skin barrier.
Karena itu, edukasi dan perawatan preventif dinilai semakin penting. Salah satu pasien, Yolanda, mengaku terkejut dengan kenyamanan prosesnya.
“Saya tidak merasakan sakit, padahal alatnya terasa masuk ke kulit. Tidak pakai
anestesi sama sekali. Rasanya seperti divakum,” tuturnya. (sam/opi)