RADAR SURABAYA — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan bahwa Indonesia memiliki kemampuan penuh untuk memproduksi berbagai vaksin hewan secara mandiri. Hal itu ia sampaikan saat melakukan kunjungan kerja ke Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya, Jumat (21/11) sore.
Dalam kunjungan tersebut, Sudaryono meninjau langsung fasilitas produksi serum, vaksin, dan obat-obatan hewan yang menjadi penyangga utama ketahanan kesehatan hewan nasional. Produk Pusvetma ini diperuntukkan bagi berbagai jenis ternak, mulai dari unggas, domba, sapi, hingga babi.
“Saya harus katakan bahwa secara mandiri kita bisa memproduksi vaksin-vaksin. Apakah itu antraks, flu burung, penyakit mulut dan kuku (PMK), dan lain-lain. Sumber daya manusia (SDM) ada, peralatan ada, dan kita mampu,” tegasnya.
Menurut Sudaryono, sebagian besar vaksin spesifik seperti vaksin antraks sudah hampir seluruhnya diproduksi di dalam negeri oleh Pusvetma. Hanya beberapa jenis vaksin untuk hewan dengan populasi sangat besar, seperti unggas yang saat ini baru bisa dipenuhi sekitar 30 persen.
“Insya Allah tahun depan kita bangun fasilitas baru agar kapasitas produksi meningkat. Target kita vaksin bisa 100 persen dipenuhi dari produksi dalam negeri tanpa impor,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki SDM dan perangkat teknologi yang memadai. Tinggal menambah fasilitas produksi serta memperkuat sarana agar kebutuhan vaksin dan serum dapat dipenuhi secara mandiri.
Produksi vaksin hewan ini juga melibatkan kolaborasi erat dengan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) di berbagai perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun luar negeri. Menurutnya, kerja sama ini penting mengingat Indonesia sebagai negara tropis memiliki karakteristik penyakit hewan yang berbeda dari negara subtropis maupun non-tropis.
“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Kementerian Pertanian, khususnya Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, untuk memastikan kebutuhan vaksin, obat-obatan, dan serum bisa dipenuhi secara mandiri,” jelas Sudaryono.
Ia berharap peningkatan kapasitas produksi ini dapat membuat ternak di Indonesia semakin sehat, produktif, dan tahan terhadap berbagai penyakit. “Tujuannya jelas: peternakan kita harus kuat, ternak kita sehat, dan negara kita tidak lagi bergantung pada impor vaksin,” pungkasnya. (mus/gun)
Editor : Guntur Irianto