RADAR SURABAYA - Gelaran Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025 di Tunjungan Plaza kembali menjadi ruang unjuk karya bagi para desainer muda.
Event fashion yang tahun ini sudah memasuki penyelenggaraan ke-18 itu dihelat 14 hingga 16 November 2025.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah koleksi bertema “Blood” rancangan, Migi Rihasalay yang diberi kehormatan tampil di hari kedua, Sabtu (15/11/2025) malam.
Melalui 12 look bernuansa merah dan putih, Migi mengangkat makna mendalam tentang kehidupan, kematian, hingga pengorbanan.
Menurut Migi, tema “Blood” lahir dari pemaknaan sederhana namun kuat, darah sebagai sumber kehidupan.
“Kita hidup melalui apa yang ada dalam tubuh kita, dan itu adalah darah. Darah berkesinambungan dengan kehidupan, kematian, kehilangan, bahkan bencana dan sakit,” ujarnya, Senin (17/11).
Ia juga menyinggung tentang keberanian dan pengorbanan, terutama perempuan yang melahirkan, hingga pejuang yang bertumpah darah demi perjuangan.
Makna tersebut diterjemahkan dalam pilihan warna merah-putih yang mendominasi seluruh koleksi.
Migi menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam koleksi ini terletak pada teknik gradasi yang menjadi ciri khas karyanya.
“Tantangannya bagaimana membuat gradasi agar tunenya tidak seperti bercak, tapi tetap halus. Sesuai khas saya yang selalu bermain dengan gradasi,” jelasnya.
Selain itu, ornamen payet yang digunakan pada setiap look juga membutuhkan ketelitian ekstra.
“Payetnya handmade. Itu yang paling sulit, karena saya harus memastikan payet dan gradasinya selaras,” ujarnya.
Koleksi “Blood” dirancang tidak hanya untuk runway, tetapi juga bisa dipakai dalam momen tematik seperti Halloween.
Salah satu elemen yang mencuri perhatian adalah aksesori spider lily yang dikenakan di kepala model.
“Spider lily aslinya tumbuh di pemakaman. Itu saya pilih untuk menguatkan makna tema ini,” kata Migi.
Untuk bahan utama, Migi memilih menggunakan kanvas. Bukan tanpa alasan, kanvas dinilai paling cocok untuk menampilkan efek gradasi dan tetesan darah yang ia inginkan.
“Kalau bukan kanvas, tidak bisa terlukis. Kanvasnya setelah dicuci juga tidak akan luntur karena menggunakan cat khusus untuk fabric. Semuanya natural fabric, saya buat senatural mungkin, biarkan seperti tetesan darah,” pungkasnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa