RADAR SURABAYA - Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso mengapresiasi langkah inovatif pelaku usaha lokal di Surabaya yang mengembangkan produk fesyen ramah lingkungan.
Hal itu disampaikan saat kunjungannya ke Namira Eco Print, sebuah rumah produksi batik dan fesyen berbahan alami yang berlokasi di Surabaya, Kamis (13/11).
Dalam kesempatan tersebut, menteri yang akrab disapa Busan meninjau langsung proses pembuatan batik eco print yang seluruhnya menggunakan bahan alami tanpa bahan kimia.
Ia menyebut, produk seperti yang dikembangkan Namira memiliki potensi besar untuk menembus pasar global.
“Produk dari Namira Eco Print ini sangat bagus dan punya nilai tambah tinggi. Kita di Kementerian Perdagangan punya dua program yang bisa membantu UMKM seperti Namira, yaitu UMKM Bisa Ekspor dan Pola Kemitraan dengan Retail Modern,” ujar Busan.
Melalui program tersebut, kata Busan, Kementerian Perdagangan siap memfasilitasi pelaku UMKM untuk memperluas pasar hingga ke mancanegara.
Pemerintah memiliki jaringan perwakilan perdagangan di 33 negara dan 46 kantor promosi dagang (ITPC) yang akan membantu mempertemukan pelaku usaha lokal dengan calon pembeli luar negeri.
“Bapak tinggal presentasi saja ke perwakilan kami, nanti buyer-nya yang kami carikan. Tahun ini saja sudah ada lebih dari 1.000 UMKM yang difasilitasi dan total transaksi ekspornya mencapai USD 130 juta atau setara Rp 2,1 triliun,” jelasnya.
Busan menegaskan, keberhasilan ekspor UMKM bergantung pada konsistensi menjaga kualitas produk.
Ia berharap pelaku UMKM di Indonesia, termasuk Namira Eco Print, terus menjaga mutu produksi agar mampu bersaing di pasar global.
Selain membuka peluang ekspor, Kementerian Perdagangan juga akan membantu agar produk-produk UMKM seperti Namira dapat masuk ke pasar domestik melalui kemitraan dengan jaringan ritel modern dan departemen store seperti Sarinah dan MAP Group.
“Kita ingin ekspor dinikmati oleh semua, baik perusahaan besar, menengah, maupun kecil. Tapi untuk dalam negeri, kami juga bantu agar produk UMKM bisa masuk ke toko modern. Syaratnya satu: produknya harus berkualitas,” tegas Busan.
Kementerian Perdagangan berharap kehadiran pelaku usaha seperti Namira bisa menjadi inspirasi bagi UMKM lain di Indonesia untuk naik kelas, tidak hanya dalam hal kreativitas, tetapi juga dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Kita ingin UMKM naik kelas dan bisa ekspor. Dari produk-produk khas seperti inilah, Indonesia bisa tampil di pasar dunia dengan identitas yang kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Didik, pemilik sekaligus penanggung jawab Namira Eco Print, mengaku terkejut sekaligus bangga dengan perhatian Menteri Perdagangan terhadap produk lokal.
Menurutnya, kunjungan tersebut berawal dari keikutsertaan Namira dalam sejumlah pameran nasional seperti Trade Expo Indonesia dan Inacraft.
“Saya sendiri tidak menyangka Bapak Menteri bisa datang ke sini. Rupanya karena Namira sering ikut pameran dan mendapat banyak masukan ke kementerian. Beliau ingin melihat langsung proses produksi kami yang handmade, zero waste, dan no chemical,” jelas Didik.
Didik menambahkan, kunjungan Mendag menjadi dorongan besar bagi pihaknya untuk terus berinovasi dan memperluas pasar.
Bahkan, sejumlah peminat dari luar negeri sudah mulai melirik produk Namira.
“Dari Senegal sudah memesan 100 jaket eco print, dan ada juga seniman dari Santa Fe, New Mexico, Amerika Serikat, yang datang langsung ke sini setelah melihat media sosial kami. Bahkan ibu-ibu dari Jepang juga pernah datang ke workshop,” ungkapnya.
Produk-produk Namira Eco Print sendiri dibuat dengan teknik mencetak warna dan motif daun langsung ke kain, sehingga menghasilkan corak alami yang unik.
Dengan filosofi go green dan zero waste, Namira tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga pesan pelestarian lingkungan. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa