RADAR SURABAYA – Pasar tradisional kini tak lagi sekadar tempat jual beli. Di Surabaya, konsep pasar bersih dan modern mulai diwujudkan di Pasar Sememi, yang menjadi salah satu model nasional dalam program Gerakan Nasional Membersihkan Pasar Nusantara (Gernas Mapan). Pasar ini memiliki waste station untuk pengumpulan sampah.
Program ini dicanangkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan resmi digelar di Pasar Sememi, Kamis (13/11).
Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso menegaskan, Gernas Mapan tidak hanya fokus pada peningkatan kebersihan pasar, tetapi juga pada pembentukan ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Ini sesuai program pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup agar kita bersih, bebas dari sampah. Salah satunya adalah membersihkan sampah di pasar-pasar rakyat atau pasar tradisional,” ujar Mendag Budi saat kegiatan di Pasar Sememi, Surabaya.
Menurut Budi, Pasar Sememi merupakan contoh nyata pasar rakyat yang mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi.
“Ada waste station juga (Pasar Sememi), jadi secara ekosistem sampahnya sudah ada. Cara menaruh di mana, kemudian nanti mau diproseskan menjadi apa sudah ada semua. Tinggal sekarang bagaimana para pedagang ini mengumpulkan dan membersihkan sampah dengan baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, pasar yang bersih akan berdampak langsung pada peningkatan kenyamanan pedagang dan pembeli. “Kalau pasarnya bersih, pedagang juga senang, sehat, dan pasar tidak bau. Pengunjung pun senang karena tempatnya bersih dan aman,” tutur Budi.
Namun, Gernas Mapan tak hanya berbicara soal kebersihan. Di tengah gempuran era digital, pemerintah juga mendorong transformasi transaksi di pasar tradisional. Para pedagang di Pasar Sememi kini mendapat pelatihan penggunaan QRIS untuk pembayaran nontunai.
“Kita mengajari para pedagang untuk melayani pembelian dengan QRIS. Karena sekarang orang banyak belanja secara digital, tidak bawa uang tunai, cukup dengan ponsel,” katanya.
Budi menjelaskan, digitalisasi pasar tradisional menjadi bagian dari strategi nasional untuk menciptakan pasar rakyat modern yang tetap berpijak pada kearifan lokal.
“Banyak pasar rakyat yang sudah kami bina, pasarnya tetap ada secara fisik, tapi transaksi banyak dilakukan secara online. Konsep yang kami dorong adalah omnichannel, dimana jualan fisik tetap ada tapi juga melayani penjualan online,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 KLHK, Hanifa Dwi Nirwana, menilai Gernas Mapan sebagai langkah strategis mempercepat target penanganan sampah nasional 100 persen pada 2029.
“Ini kegiatan yang luar biasa. Ini bagian penting untuk percepatan penanganan sampah di Indonesia yang ditargetkan RPJMN selesai 100 persen pada tahun 2029,” ujar Hanifa.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi kunci kesuksesan gerakan ini.
“Upaya-upaya kecil jika dilakukan bersama dan serempak akan berdampak besar. InsyaAllah, Indonesia bersih bisa terwujud dalam waktu yang tidak lama,” imbuhnya.
Dari sisi daerah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, mengungkapkan bahwa Pasar Sememi telah memiliki sistem pengelolaan sampah yang efisien melalui kolaborasi dengan rekosistem (waste station).
“Yang menarik di pasar (Sememi) itu ada rekosistem (waste station). Sampah yang dikelola oleh rekosistem itu bisa mengurangi sampah ke TPA Benowo hingga 1,7 sampai 1,8 ton per bulan,” jelas Dedik.
Menurut Dedik, inovasi tersebut juga diterapkan di berbagai titik di Surabaya.
“Jadi rekosistem tidak khusus untuk penanganan (sampah) pasar. Di Surabaya ada lima titik, termasuk di daerah MERR, dan perumahan,” pungkasnya. (dim/gun)
Editor : Guntur Irianto