RADAR SURABAYA - Alih-alih marah besar atau memberi sanksi berat, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi justru menunjukkan sisi kepemimpinan yang lembut dan membangun. Ia memilih menonaktifkan sementara admin media sosial pribadinya, Hening Dzikrillah, yang sempat viral akibat ucapan candaan saat jeda siaran langsung.
Penonaktifan sementara ini bukan untuk menghukum, melainkan agar sang anak muda belajar dan memperbaiki diri. “Kalau anak muda mengalami kegagalan, jangan dibunuh karakternya. Tugas kita adalah membuat mereka yakin dan berani bangkit,” tegas Eri di Balai Kota Surabaya.
Eri mengaku baru mengetahui insiden tersebut sepulangnya dari kegiatan Konferensi Asia Afrika di Blitar, dan langsung menerima surat pengunduran diri dari Hening melalui Sekretaris Daerah. Namun, ia menolak surat itu.
Eri menilai, media sosial di tangan anak muda seperti Hening harus menjadi sarana edukasi, bukan sekadar ruang popularitas. Karena itu, ia terus menekankan agar timnya menjadikan medsos sebagai kanal penyebar pesan kebaikan dan gotong royong, sebagaimana yang selama ini ia lakukan melalui akun Instagram pribadinya.
“IG saya isinya ajakan ayo zakat, ayo kerja bakti, ayo bantu sesama. Media sosial itu alat edukasi, bukan panggung pencitraan,” tegasnya.
Terkait ucapan candaan Hening yang terekam saat mikrofon belum dimatikan, Eri menyebutnya sebagai kekhilafan yang manusiawi. Ia memahami bahwa anak muda sering kali spontan dan belum matang dalam mengelola situasi profesional.
“Dia hanya bercanda dengan temannya, tapi mic belum mute. Anak muda itu kadang teledor. Tapi itu bukan akhir, justru awal proses kedewasaan,” katanya.
Saat ini, Hening disebut tengah menenangkan diri dan berencana menjalani umrah. Eri berharap, pengalaman ini menjadi titik balik agar ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan matang.
“Saya nonaktifkan sementara agar dia memperbaiki diri. Dia harus berani menghadapi kenyataan. Ketika ada kesalahan, jangan pernah mundur selangkah pun,” ucap Eri.
Lebih jauh, Eri berharap peristiwa ini menjadi cermin bagi generasi muda bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya, asalkan berani bertanggung jawab.
“Setiap manusia tempatnya kekurangan, tapi keberanian menghadapi kesalahan itu yang menjadikan kita sempurna,” pungkasnya. (*)