RADAR SURABAYA - Di tengah padatnya kawasan pemukiman Petemon, Surabaya, ada sebuah pizzeria, yakni restoran atau kedai yang mengkhususkan diri pada pizza.
Kedai ini menyuguhkan sensasi kuliner khas Italia dengan cita rasa autentik.
Bukan dari restoran besar, melainkan dari rumah sederhana milik Irwan, sang pemilik Salomon Pizzeria.
Berawal dari hobi memasak dan keinginan membuat makanan tradisional, Irwan mulai bereksperimen membuat pizza khas Italia untuk keluarga.
“Awalnya saya cuma masak untuk dimakan sendiri setiap minggu. Saya ingin bikin roti atau makanan yang dibuat dengan cara tradisional,” ujar Irwan, Jumat (31/10).
Saat itu pandemi Covid-19 justru membuka jalan usaha baru baginya.
Saat pekerjaan di sektor proyek sepi, sang istri menyarankan agar pizza buatannya dijual.
Meski tanpa latar belakang kuliner atau pengalaman di dunia F&B, Irwan memberanikan diri membuka usaha kecil di rumahnya.
“Awalnya kami tidak yakin bisa laku. Hari-hari pertama sepi, bahkan sempat berminggu-minggu tidak ada yang datang. Tapi lama-lama mulai ramai karena promosi dari mulut ke mulut,” kenangnya.
Kini, setelah beberapa tahun berjalan, Salomon Pizzeria punya banyak pelanggan tetap yang rela datang jauh-jauh untuk menikmati pizza tradisionalnya.
Uniknya, semua pizza di Salomon Pizzeria dimasak menggunakan tungku kayu bakar buatan sendiri.
Irwan bahkan mempelajari cara membuat tungku itu secara otodidak melalui internet, dan terus mengalami penyempurnaan hingga sekarang.
Bahkan ia menggunakan batu lava asli Gunung Merapi sebagai alas panggangnya, yang memberi karakter rasa berbeda pada setiap pizza.
“Karakter pizza bisa beda kalau pakai tungku tradisional. Semua pengaturannya manual, jadi butuh feeling dan ketelitian,” jelasnya.
Proses pemanggangan hanya butuh sekitar tiga menit, tapi suhu bara dan ketebalan topping harus pas agar hasilnya sempurna.
Meski bentuk pizzanya tak selalu bulat sempurna, justru di situlah letak keunikannya.
“Saya ingin tetap mempertahankan kesan handmade. Bentuknya tidak selalu sama, tapi rasanya tetap khas,” ujar Irwan.
Ia memfermentasi adonan rotinya selama dua hari agar teksturnya lebih lembut dan mudah dicerna.
Menu awal yang ia jual adalah Pizza Margarita dan Marinara, dua varian klasik Italia.
Kini, daftar menunya bertambah hingga 11 jenis pizza, ditambah pilihan pasta dan meatball.
Ada dua tipe pizza yang bisa dipilih pelanggan, yakni Canoto berukuran kecil dan Classic yang lebih besar.
Favorit pengunjung jatuh pada varian Margarita dan Mushroom.
Menariknya, lokasi Salomon Pizzeria masih menyatu dengan rumah sang pemilik tanpa banyak renovasi.
Akses menuju tempat ini memang berada di dalam gang pemukiman, tapi hal itu tak menyurutkan minat pengunjung.
Untuk menjaga kenyamanan, Irwan membagi jam operasional dalam tiga sesi mulai pukul 17.00–21.00 WIB, dengan kapasitas sekitar 30 orang per sesi.
Pengunjung disarankan melakukan reservasi melalui WhatsApp, karena tempat ini kerap penuh terutama di akhir pekan.
Kini, Irwan tak lagi bekerja sendiri. Ia dibantu enam karyawan yang merupakan warga sekitar.
“Kami ingin tetap sederhana tapi konsisten menjaga cita rasa. Karena dari awal, niat kami memang ingin membuat pizza yang jujur, alami, dan dibuat dengan hati,” tutupnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa