RADAR SURABAYA - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjadi tuan rumah lokakarya nasional yang membahas upaya mewujudkan kampus sehat, aman, dan inklusif. Kegiatan ini digelar sebagai respons terhadap isu-isu kekerasan yang marak terjadi di lingkungan kampus.
Wakil Rektor II Unesa, Dr. Bachtiar Syaiful Bachri, menyampaikan bahwa agenda ini sangat penting untuk meng-update cara mewujudkan kampus yang sehat, aman, dan inklusif.
"Kami dari Unesa memang memprioritaskan agar perguruan tinggi mampu menjadi rumah kedua bagi seluruh civitas akademika, mahasiswanya, dosennya, tendiknya. Bahkan mungkin masyarakat sekitar akan dapat memandang perguruan tinggi kita sebagai muara untuk meluapkan semua apa yang ada di benak, ada di pikiran, ada di hati untuk lebih mencair dan bersama-sama membangun bangsa dan negara yang luar biasa," ujarnya.
Bachtiar menambahkan bahwa tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana Satgas BPKPT dapat melakukan pencegahan yang efektif melalui program-program kreatif, inovatif, dan menyentuh langsung dinamika Gen-Z serta perkembangan sosial masyarakat dan media sosial.
"Seluruh civitas akademika tentu memerlukan memiliki kebutuhan untuk berada di lingkungan kampus yang aman dan nyaman. Tidak ada lagi kita mendengar korban sehingga kampus benar-benar menjadi ruang yang aman untuk semuanya," tegasnya.
Sejak ditetapkannya Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021, Unesa telah membentuk Satgas BPKP di bawah Direktorat PPIS. Satgas ini tidak hanya menangani kekerasan seksual, tapi juga perundungan intoleransi. Unesa juga menetapkan Peraturan Rektor Nomor 11 Tahun 2024 tentang pencegahan kekerasan yang meliputi kekerasan fisik, seksual, psikis, perlindungan, intoleransi, dan sebagainya, termasuk isu kekerasan finansial terkait UKT.
Baca Juga: Pria Tenggelam di Sungai Kalimas Jalan Ngagel Surabaya Ditemukan Meninggal, Korban Asal Sidoarjo
Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis Indonesia, Prof. Multimatul Faidah, menjelaskan bahwa lokakarya ini bertujuan agar seluruh Satgas dari seluruh Indonesia dapat berbagi pengalaman terkait dengan pencegahan dan penanganan kekerasan. (*)