RADAR SURABAYA – Fenomena munculnya ikan yang tampak “mabuk” di saluran Banyu Urip dan Sungai Kalimas menjadi alarm dini bagi ekosistem air di Kota Surabaya. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya langsung merespons cepat dengan langkah ilmiah melakukan uji kualitas air dan memperkuat sistem pemantauan lingkungan secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, mengungkapkan bahwa fenomena ini bukan hal baru yang terjadi di sungai. Kendati begitu, Dedik menyebut, fenomena ini juga menjadi sinyal penting untuk mengukur kesehatan sungai di tengah peralihan musim.
“Kejadian seperti ini biasanya terjadi saat pergantian musim. Perubahan kondisi air yang drastis bisa menurunkan kadar oksigen terlarut dan membuat ikan-ikan stres,” ujar Dedik.
Dari hasil pemeriksaan lapangan oleh Tim Penegakan Hukum Lingkungan Hidup (PPKLH) DLH, ditemukan bahwa kadar oksigen terlarut (DO) di lokasi hanya berada di angka 1,5 mg/L, jauh di bawah standar ideal sungai yakni 3 mg/L.
“Kami sudah lakukan uji laboratorium dan hasilnya memang menunjukkan kadar oksigen sangat rendah. Ini mengindikasikan perairan sedang dalam kondisi tidak stabil,” jelasnya.
Menurutnya, fenomena ini diduga terjadi akibat penurunan drastis kadar oksigen yang disebabkan oleh akumulasi limbah organik selama musim kemarau. Saat hujan pertama turun, endapan tersebut terangkat dan memicu reaksi biologis yang menguras oksigen di air.
Menanggapi situasi ini, DLH Surabaya kini menyiapkan strategi pemantauan kualitas air berbasis data real-time dan berkelanjutan di beberapa titik sungai utama. Sistem ini akan memungkinkan petugas mendeteksi lebih cepat perubahan kualitas air, terutama kadar oksigen dan pH.
“Kami sedang menyiapkan langkah pemantauan yang lebih sistematis agar kejadian seperti ini bisa diantisipasi lebih awal,” katanya.
Dedik juga mengimbau warga untuk berperan aktif menjaga kebersihan sungai dan tidak membuang limbah rumah tangga ke aliran air. Menurut dia, kebersihan sungai bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Setiap sampah yang dibuang ke sungai bisa memperburuk kondisi ekosistem.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah, khususnya sampah rumah tangga dan limbah lainnya ke sungai. Kebersihan sungai adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Harmin Sulistiyaning Titah, dosen Teknik Lingkungan ITS, menilai kejadian ini sebagai akibat alami dari dinamika ekosistem sungai yang tertekan oleh pencemar organik.
Fenomena “ikan mabuk” ini, lanjut Prof. Harmin, seharusnya tidak dipandang sekadar kejadian aneh, tetapi sebagai peringatan ekologis bahwa kualitas air perlu mendapat perhatian lebih serius.
“Saat musim kemarau, polutan mengendap di dasar sungai. Begitu hujan turun, endapan itu terangkat dan mengurangi oksigen dalam air. Ikan kemudian naik ke permukaan untuk mencari oksigen,” jelasnya.
Dengan langkah cepat dan pendekatan ilmiah yang kini dijalankan, Pemkot Surabaya bertekad menjadikan peristiwa ini sebagai momentum memperkuat kesadaran ekologi perkotaan bahwa menjaga sungai berarti menjaga kehidupan kota. (dim/gun)
Editor : Guntur Irianto