RADAR SURABAYA - Suasana khas Korea terasa begitu kuat di lantai 7 Graha Widya Mandala, dalam kemeriahan Korean Fest 2025 yang digelar oleh Surabaya Korean Center di bawah naungan Yayasan Widya Mandala Surabaya (YWMS).
Acara yang didukung oleh KT&G Scholarship Foundation dan BBB Korea tersebut mengusung tema unik: “Jjimjilbang: Korean Sauna.”
Tema ini menghadirkan pengalaman budaya yang autentik, hangat, dan penuh kebersamaan, seperti yang menjadi ciri khas masyarakat Korea.
“Jjimjilbang” sendiri bukan sekadar sauna biasa. Dalam budaya Korea, tempat ini menjadi ruang sosial tempat keluarga dan teman berkumpul, bercengkrama, hingga melepas penat bersama.
“Jjimjilbang adalah tempat budaya penting di Korea, di mana keluarga dan teman bisa berbagi cerita serta beristirahat sejenak dari kesibukan hidup. Di sana ada rasa kebersamaan yang kuat,” jelas Choie Meehei, Sekretaris Jenderal BBB Korea, melalui keterangan resminya, Selasa (28/10).
Melalui tema ini, Surabaya Korean Center ingin menghadirkan pengalaman interaktif dan edukatif yang memungkinkan peserta merasakan langsung suasana jjimjilbang ala Korea, lengkap dengan elemen khas seperti telur panggang, minuman sikhye, dan area sauna dengan dekorasi tematik.
Acara ini diikuti sekitar 200 peserta, terdiri dari mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum pecinta budaya Korea.
Turut hadir Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), apt. Sumi Wijaya, S.Si., Ph.D., serta perwakilan YWMS, Drs. Ec. Subiantoro Maliki Tedja, MBA.
Menurut Danica Suradja, Direktur Surabaya Korean Center, Korean Fest 2025 bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran budaya yang menyenangkan.
“Kami menghadirkan konsep interaktif melalui booth seperti eoreum bang (ice room), bulgama bang (hot stone room), dan hwangto bang (yellow clay room). Tiap ruangan punya permainan tradisional yang bisa diikuti peserta,” ujar Danica.
Tak hanya memperkenalkan budaya “Jjimjilbang”, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Surabaya Korean Center untuk memperluas wawasan lintas budaya dan mempererat hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan.
Melalui berbagai kegiatan seperti kelas bahasa Korea, kegiatan budaya, hingga tes kemampuan bahasa Topik, lembaga ini terus menjadi jembatan penghubung bagi masyarakat Jawa Timur yang ingin mengenal Korea lebih dekat.
“Kami ingin masyarakat bisa belajar budaya Korea secara langsung, bukan hanya lewat drama atau musik K-Pop, tetapi melalui pengalaman nyata seperti hari ini,” tambah Danica. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa