Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Psikolog UM Surabaya Sebut Akses ke Komunitas Gay Kian Mudah

Andy Satria • Senin, 27 Oktober 2025 | 22:59 WIB
Dr. Dewi Ilma Antawati, S.Psi., M.Psi.
Dr. Dewi Ilma Antawati, S.Psi., M.Psi.

“Kini, semakin banyak grup media sosial yang secara terbuka membahas hubungan seksual tidak lazim. Akses menuju komunitas seperti ini kian mudah.”

Dr. Dewi Ilma Antawati, S.Psi., M.Psi.
Psikolog UM Surabaya

RADAR SURABAYA - Kasus pesta seks sesama jenis yang digerebek aparat di salah satu hotel kawasan Ngagel, Surabaya, baru-baru ini, mengundang perhatian publik.

Fenomena ini dinilai bukan hanya pelanggaran hukum dan moral, tetapi juga mencerminkan masalah serius dalam perilaku seksual berisiko.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Dr. Dewi Ilma Antawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Menurutnya, perilaku tersebut dalam literatur psikologi dikenal sebagai sexual encounter group.

Yakni aktivitas seksual yang melibatkan lebih dari dua orang dalam satu kegiatan. “Grup seksual encounter itu punya banyak faktor penyebab, tidak hanya sosial, tapi juga psikologis,” jelas Dewi Ilma, Senin (27/10).

Ia memaparkan sedikitnya ada lima faktor utama yang mendorong munculnya perilaku tersebut.

Pertama, dorongan untuk mencari sensasi dan pengalaman baru. Kedua, pada kelompok homoseksual, terdapat kebutuhan untuk diterima karena secara sosial perilaku itu belum diterima secara moral maupun hukum.

Selain itu, Dewi juga menyoroti luka batin, stres, dan krisis identitas sebagai pemicu perilaku berisiko.

“Banyak dari mereka yang merasa terluka secara emosional atau berbeda dari laki-laki lainnya. Ketika menemukan kelompok dengan pengalaman serupa, mereka merasa diterima dan terbentuklah komunitas semacam ini,” ujarnya.

Dari sisi psikososial, Dewi menilai keberadaan komunitas daring yang membahas perilaku menyimpang turut memperburuk keadaan.

“Kini, semakin banyak grup media sosial yang secara terbuka membahas hubungan seksual tidak lazim. Akses menuju komunitas seperti ini kian mudah,” katanya.

Lebih jauh ia juga menyoroti pengaruh media populer, seperti film atau serial dengan genre Boys Love dan Girls Love, yang dianggap menormalisasi perilaku menyimpang.

“Ketika media menggambarkan hal itu secara romantis, sebagian orang jadi menganggapnya wajar,” tambahnya.

Menurut Dewi, kemudahan akses terhadap teknologi dan ruang privat seperti hotel juga menjadi faktor pendukung.

“Tempat tertutup dianggap bebas dari penilaian masyarakat, padahal justru bisa menjadi ruang aman bagi perilaku berisiko,” tegasnya.

Ia juga menyoroti lemahnya nilai religiusitas dan pendidikan moral yang memperparah situasi.

Untuk itu, Dewi mendorong adanya penanganan multidisipliner yang mencakup empat tahap. Yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

“Langkah promotif bisa dilakukan lewat pendidikan karakter dan edukasi perilaku seksual sehat. Tahap preventif melibatkan guru dan orang tua sebagai tempat bercerita yang aman bagi anak. Kalau sudah terjadi, maka perlu pendekatan kuratif dengan dukungan medis, psikolog, dan psikiater untuk mengatasi rasa bersalah atau rendah diri,” paparnya.

Pada tahap rehabilitatif, Dewi menekankan pentingnya membantu pelaku untuk kembali diterima di masyarakat.

“Stigma harus diantisipasi. Kita menolak perilakunya, tapi bukan manusianya. Mereka tetap manusia yang berharga,” tegasnya.

Dewi berharap kasus ini bisa menjadi refleksi bersama, bukan sekadar bahan kecaman.

“Masyarakat perlu membangun sistem dukungan dan edukasi yang lebih kuat. Kasus ini menjadi pengingat bahwa pendidikan nilai, moral, dan kesehatan mental harus diperkuat sejak dini,” pungkasnya. (sam/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#psikolog #um surabaya #sesama jenis #perilaku #komunitas #akses #seksual #pesta gay