RADAR SURABAYA – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur memastikan tengah melakukan investigasi intensif terkait munculnya semburan gas di aliran Sungai Kali Bon Agung, Surabaya, yang terjadi sejak Rabu (16/10) sekitar pukul 14.00 WIB.
Kepala Dinas ESDM Jatim, Aris Mukiyono, menjelaskan bahwa semburan gas tersebut muncul dari dasar sungai dengan ketinggian sekitar 120 sentimeter.
Hingga Jumat (17/10), semburan masih terus berlangsung dengan pola interval setiap lima menit gas menyembur, kemudian berhenti selama lima menit, dan kembali menyembur.
“Semburan terjadi di dalam aliran sungai dan masih berlangsung hingga saat ini. Kami bersama PGN dan pihak terkait terus melakukan pengecekan teknis di lapangan,” ujar Aris, Jumat (17/10)
Menurut Aris, tim gabungan telah melakukan penggalian di sisi utara dan selatan lokasi semburan untuk menguji kemungkinan adanya kebocoran pipa gas milik Perusahaan Gas Negara (PGN).
Adapun lokasi penggalian dilakukan di tiga titik dekat McDonald’s, serta dua titik di sebelah timur Superindo, untuk mengukur tekanan gas dan memastikan ada atau tidaknya jalur pipa gas di bawah aliran sungai.
Hasil pengukuran awal di titik semburan menunjukkan komposisi gas sebagai berikut, O₂ = 20,9 persen, H₂S = 0 ppm, CO = 0 ppm, LEL = 10–36 persen (kategori potensi terbakar sedang).
“Dari hasil uji lapangan, gas ini tidak bersifat beracun karena kandungan H₂S dan CO nihil, namun tergolong mudah terbakar karena nilai LEL di atas batas aman,” jelas Aris.
Aris menjelaskan, ada dua kemungkinan penyebab semburan gas tersebut. Pertama, kemungkinan adanya kebocoran pipa distribusi gas PGN yang melintas di kawasan itu, meski hingga kini belum ditemukan pipa di dasar sungai.
Kedua, gas tersebut bisa jadi berasal dari alam, mengingat secara geologis lokasi semburan berada di dataran aluvial atau endapan sedimen sungai yang terletak di kelurusan Watukosek, diduga merupakan bagian dari struktur sesar aktif.
“Dekat lokasi ini juga terdapat fenomena Mud Volcano Gunung Anyar, jadi tidak menutup kemungkinan keduanya memiliki keterkaitan secara geologis," ujarnya.
Kesimpulan sementara, pertama, investigasi lapangan oleh PGN masih berlangsung untuk melacak kemungkinan kebocoran pipa gas di area sekitar.
Kedua, hasil uji menunjukkan gas mudah terbakar namun tidak beracun. Masyarakat tidak perlu panik, namundisarankan menjauhi titik semburan dan menghindari kontak langsung dengan gas tersebut untuk mengantisipasi potensi bahaya kebakaran.
“Kami terus berkoordinasi dengan PGN, BPBD, dan pihak terkait lainnya untuk memastikan keamanan masyarakat serta mencari sumber utama semburan,” pungkas Aris.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto, menyampaikan bahwa semburan tersebut tidak mengeluarkan lumpur atau air, melainkan hanya gas yang menyerupai udara.
“Hasil pemeriksaan awal mengandung gas metana, tapi ukurannya masih dinyatakan aman oleh teman-teman dari PGN, ESDM, maupun ITS,” ujar Irvan saat meninjau lokasi, Jumat (17/10).
Irvan juga memahami kepanikan warga yang sempat mengira fenomena tersebut mirip dengan insiden lumpur Lapindo di Sidoarjo. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi di lapangan saat ini terkendali dan terus dipantau.
“Kami memahami kepanikan warga, tapi kami pastikan situasi aman dan akan terus kami update,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD telah membuat perimeter agar warga tidak mendekat ke titik semburan.
CCTV milik Pemkot Surabaya juga diarahkan ke lokasi untuk memantau aktivitas secara real-time sesuai arahan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.
“Kami buat perimeter agar warga tidak mendekat, dan CCTV pemkot sudah diarahkan ke titik semburan,” jelas Irvan. (mus/dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari