RADAR SURABAYA - Suasana hangat dan penuh warna menyelimuti Galeri Prabangkara, kompleks Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) Surabaya.
Sebab, di tempat ini tengah digelar pameran seni bertajuk “Ekspresi Warna Seni Batik”, yang akan berlangsung hingga 23 Oktober 2025.
Pameran ini menampilkan 25 karya seni lukis batik dari 10 perupa asal berbagai daerah di Jawa Timur, mulai dari Pacitan, Madiun, Sidoarjo, Surabaya, hingga Ponorogo.
Setiap karya menghadirkan gaya, teknik, dan karakter yang unik dari para pembatik.
Salah satu peserta pameran, Rano Indera, perupa asal Surabaya, mengaku telah dua tahun menekuni seni lukis batik.
Meski berlatar belakang seni grafis di STKW Surabaya, Rano mengaku tertantang untuk mencoba media baru agar tidak merasa jenuh dalam berkarya.
“Saya mencoba melukis pada media batik ini kurang lebih selama dua tahun. Latar belakang saya grafis, tapi saya ingin mencari pengalaman baru lewat media batik ini,” tutur Rano, Jumat (17/10).
Dalam pameran kali ini, ia menampilkan karya berjudul “Nuansa Malam” dengan ukuran 1 x 2 meter.
Proses pembuatannya memakan waktu sekitar tiga minggu, menggunakan canting sebagai alat utama dan pewarna tekstil untuk menghasilkan gradasi warna yang kuat.
“Visualnya menggambarkan imajinasi dan fantasi saya. Secara teknik dan motif, ini masuk kategori kontemporer, karena tidak terikat pakem batik tradisional,” jelasnya.
Rano juga menambahkan bahwa tantangan terbesar berpindah dari seni grafis ke batik terletak pada pemahaman material.
“Batik itu harus lebih sabar dan teliti, terutama dalam penyelarasan bahan,” ujarnya.
Sementara itu kurator pameran, Agus Sukamto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin Taman Budaya Jawa Timur untuk mendorong perkembangan dunia seni rupa, khususnya seni batik dalam bentuk lukisan.
“Seni lukis batik ini merupakan ekspresi yang sangat pribadi dan jarang dipamerkan. Biasanya batik dikenal dalam bentuk fashion, padahal dalam bentuk lukisan pun ia punya daya estetika tinggi,” terang Agus.
Menurutnya, pameran ini juga bertujuan untuk memperkenalkan seni lukis batik kepada masyarakat luas, terutama generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai warisan budaya bangsa.
“Kami tidak memberi batasan kriteria. Setiap peserta bebas bereksperimen dengan teknik masing-masing. Ada yang menggunakan canting, kuas, cotton bud, bahkan lidi. Semuanya menampilkan karakter personal yang menarik,” imbuhnya.
Persiapan pameran ini dilakukan cukup panjang, termasuk proses dokumentasi karya agar dapat menjadi arsip penting bagi perkembangan seni batik di Jawa Timur.
Dengan pameran ini, Taman Budaya Jawa Timur berharap seni lukis batik dapat semakin dikenal, tidak hanya sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai media ekspresi modern yang hidup dan dinamis. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa