Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Cuaca Panas Surabaya Diprediksi hingga Akhir Oktober 2025

Andy Satria • Jumat, 17 Oktober 2025 | 23:22 WIB

 

BERLINDUNG: Saking panasnya warga Surabaya menggunakan payung untuk menghindari dehidrasi.
BERLINDUNG: Saking panasnya warga Surabaya menggunakan payung untuk menghindari dehidrasi.

RADAR SURABAYA - Cuaca panas ekstrem kembali melanda Kota Surabaya dalam beberapa hari terakhir.

Sinar matahari terasa menyengat, bahkan pada pagi hari udara sudah terasa gerah dan kering.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, kondisi ini disebabkan oleh fenomena kulminasi utama, dimana posisi matahari berada tepat di atas wilayah Jawa Timur.

Prakirawan BMKG Juanda, Ony Sukma Hakim, menjelaskan, fenomena kulminasi utama terjadi karena gerak semu harian matahari.

Saat ini, posisi lintang matahari tepat berada di atas Jawa Timur, termasuk Surabaya yang berada di sekitar tujuh derajat lintang selatan.

“Saat matahari berada tepat di atas kita, sinar radiasi yang diterima permukaan bumi menjadi maksimal. Apalagi jika cuaca cerah dengan sedikit awan, suhu udara otomatis meningkat dan terasa lebih panas,” ujar Ony Sukma Hakim, Jumat (17/10).

Berdasarkan data BMKG, suhu udara di Surabaya dalam beberapa hari terakhir mencapai 36 derajat Celcius.

Kondisi ini diperparah oleh faktor lokal, seperti padatnya bangunan dan minimnya ruang terbuka hijau, yang membuat panas terperangkap di permukaan kota.

“Kota Surabaya padat penduduk dan banyak bangunan, sehingga efek panasnya lebih terasa. Ini sebenarnya wajar, karena tiap Oktober memang suhu di Surabaya bisa mencapai 36 hingga 37 derajat Celcius,” jelas Ony.

BMKG memperkirakan cuaca panas ini masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2025, sebelum memasuki musim hujan yang diperkirakan pada November mendatang.

Ony juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, terutama saat intensitas sinar ultraviolet (UV) sedang tinggi-tingginya.

Paparan UV berlebih dapat menimbulkan dampak negatif pada kulit dan kesehatan.

“Jika harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan pakaian tertutup, topi, atau tabir surya. Pastikan juga kebutuhan cairan tubuh tercukupi agar tidak mengalami dehidrasi,” imbaunya.

Selain itu, Ony juga menjelaskan mengenai perbedaan antara suhu udara dan suhu yang dirasakan manusia. Menurutnya, perbedaan ini disebabkan oleh pengaruh kelembapan udara.

“Kalau di aplikasi cuaca tertulis suhu 36 derajat, tapi terasa seperti 42 derajat, itu karena kelembapan udara tinggi. Jadi suhu yang dirasakan kulit bisa lebih panas dari suhu udara sebenarnya,” paparnya.

Dengan fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, menjaga kesehatan, serta menyesuaikan aktivitas harian agar tidak terpapar panas berlebih. (sam/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#surabaya #gerah #BMKG Juanda #Oktober 2025 #matahari #kering #panas #cuaca