RADAR SURABAYA – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menghidupkan kembali kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Remaja Surabaya (TRS) dengan membangun fasilitas olahraga modern seperti mini soccer dan padel dinilai perlu dikaji lebih matang.
Apalagi, hingga saat ini, wacana pemerintah kota untuk menggandeng investor pun belum ada yang masuk untuk menggarap aset besar di kawasan tersebut.
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Bahtiyar Rifai, mengingatkan agar Pemkot tidak gegabah atau sekadar ikut tren daerah lain tanpa perhitungan pasar yang jelas.
“THR itu kan infonya mau dibuat mini soccer dan padel. Nah, ini bagus, cuma kita lihat pasarnya dulu. Jangan sampai kita ini FOMO dengan daerah lain mau bikin gini, padahal (pasarnya) belum tentu ada,” ujar Bahtiyar.
Menurutnya, rencana pengembangan aset di eks THR-TRS harus mempertimbangkan aspek keekonomian dan keberlanjutan pengelolaan. Bahtiyar menilai, proyek sebesar itu akan lebih efisien jika melibatkan pihak ketiga dibandingkan dikelola langsung oleh pemerintah.
“Kalau mau memanfaatkan asetnya, ya mending dipihak-ketigakan saja. Karena kan ada perawatan nanti yang timbul kalau dikelola sendiri. Sedangkan kalau pihak ketiga yang kelola, pemasukan ke daerah murni, dan biaya perawatan sudah ditanggung pengelola,” jelasnya.
Politisi Partai Gerindra itu menambahkan, investasi besar seperti pengembangan THR dan Hi-Tech Mall membutuhkan biaya triliunan rupiah. Karena itu, ia menyarankan Pemkot fokus lebih dulu pada aset-aset kecil di kampung-kampung yang berpotensi memberikan pemasukan lebih cepat.
“Kalau Hi-tech Mall atau katakanlah mau bikin mall baru, operasionalnya tinggi sekali. Kalau menurut saya, fokus saja ke aset kecil yang tersebar di kampung-kampung. Itu banyak sekali. Disewakan untuk pengusaha menengah ke bawah, kontrak lima atau sepuluh tahun juga sudah menguntungkan,” ujarnya.
Bahtiyar menegaskan, yang terpenting adalah bagaimana seluruh aset Pemkot dapat produktif dan tidak dibiarkan menganggur. Ia mendorong agar Pemkot segera mengoptimalkan digitalisasi aset agar data penggunaan dan peluang investasinya mudah diakses publik maupun pelaku usaha.
“Yang penting jangan sampai ada aset tidur di Surabaya. Caranya ya gencarkan lewat digitalisasi aset itu,” pungkasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek