RADAR SURABAYA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto belum sepenuhnya merata di seluruh sekolah dasar (SD), khususnya di sekolah swasta. Salah satunya SD Khadijah 3 Surabaya, yang hingga saat ini belum menerima sosialisasi maupun informasi tertulis terkait MBG.
Kepala SD Khadijah 3 Surabaya Dian Kartikasari menjelaskan, meskipun program MBG belum menyasar sekolahnya, para siswa telah mendapatkan fasilitas makan siang dari sekolah. Sebab, SD Khadijah 3 merupakan full day school, sehingga fasilitas makan siang sudah ada jauh sebelum program MBG dicanangkan.
"Program MBG belum menyasar sekolah kami. Selain itu, belum ada sosialisasi maupun informasi tertulis mengenai rencana pelaksanaannya," ujar Dian Kartikasari, Jumat (10/10).
Dian menambahkan, jika nantinya ada MBG, pihaknya akan terlebih dahulu melakukan sosialisasi kepada wali murid dan mengkaji ulang bersama. Hal ini penting agar wali murid memahami tujuan dan mekanisme program tersebut.
"Kalaupun sepakat adanya MBG di sekolah kami, kami masih mengkaji dulu karena di sini juga ada catering untuk makan siang karena sekolah kami full day. Dan itu sekolah yang menyelenggarakan," jelasnya.
Menu makan siang yang sudah ada di SD Khadijah 3 juga selalu dipantau dan dievaluasi. Pihak sekolah selalu terbuka terhadap keluhan dari wali murid terkait menu yang disajikan.
Dian mengatakan, jika MBG dilaksanakan, pihaknya akan mengatur waktu antara MBG dengan menu makan siang yang sudah berjalan. SD Khadijah 3 yang merupakan sekolah unggulan NU memiliki dua waktu istirahat.
"Bisa dialokasikan untuk istirahat pertama untuk MBG, kalau untuk menu catering makan siang akan dialokasikan ke istirahat kedua. Jadi, bisa mengefisiensi uang jajan anak-anak, tapi tidak menutup kemungkinan anak-anak untuk jajan karena kita ada kantin," katanya.
Dian juga menekankan pentingnya kontrol dan monitoring dari pusat terhadap program MBG. Menurutnya, perlu ada penunjukan tim monitoring di setiap wilayah dengan jadwal dan menu yang terstruktur setiap hari. Selain itu, mitra yang digandeng harus jelas dan terpercaya.
"Mungkin nantinya bisa dibuat setiap wilayah monitor dan juga terstruktur jadwal dan menu yang akan disajikan setiap hari. Dan mitra yang digandeng jelas dan terpercaya. Kalau bisa dikelola oleh pemerintah, yang terpenting pertanggungjawaban harus jelas," tegasnya.
Lebih lanjut, Dian mengungkapkan bahwa 518 siswa SD Khadijah 3 tidak terlalu mempermasalahkan kapan MBG akan dilaksanakan, karena mereka sudah mendapatkan fasilitas catering dari sekolah.
Dian berharap program MBG dievaluasi dan diperbaiki, terutama setelah adanya beberapa kejadian. Ia juga berpendapat bahwa program MBG sebaiknya diprioritaskan untuk sekolah yang benar-benar membutuhkan.
"Saya lebih cenderung lebih memprioritaskan sekolah yang membutuhkan biar tepat sekolah yang betul-betul didukung pemerintah. Karena sebaran sekolah tidak semua sekolah besar itu lebih diperhatikan, dikontrol langsung oleh pemerintah," pungkasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek