RADAR SURABAYA - Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih singkat dibandingkan tahun lalu. Meski matahari kerap terik menyengat, hujan masih kerap turun di sela-sela musim kering. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini mulai dirasakan dampaknya oleh para petani garam di kawasan pesisir Surabaya.
Mukawi dan Sumawiyah, pasangan petani garam asal Sumenep, sudah puluhan tahun menggarap tambak garam di kawasan Tambak Oso Wilangun, Surabaya. Sejak kecil, keduanya terbiasa bekerja di bawah panas matahari, mengikuti jejak orang tua yang juga petani garam.
“Kalau hujan turun di tengah proses pembuatan garam, hasilnya langsung rusak. Yang harusnya bisa panen, malah hilang semua,” ujar Mukawi.
Menurut Mukawi, hasil garam tahun ini tak sebanyak musim kemarau sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya, saat kemarau berlangsung lama, ia bisa memanen hingga 7 ribu karung garam. Namun dengan cuaca yang tak menentu, jumlahnya turun drastis.
“Sekarang baru dapat dua ribu karung lebih. Padahal kalau panas terus, bisa panen sampai lima ton garam dari satu petak,” ujarnya.
Ia menggarap enam petak lahan tambak garam milik seorang warga Surabaya. Dari hasil panen, pembagian dilakukan dengan sistem satu banding dua, satu bagian untuk petani, dua bagian untuk pemilik lahan.
“Kalau nanti di akhir musim bisa kumpul empat ribu sampai lima ribu karung, ya kami dapat sepertiganya. Itu nanti dipotong dari pinjaman biaya hidup yang kami terima tiap minggu dari pemilik lahan,” jelasnya.
Biasanya, kalau cuaca seperti ini masih ada mendungnya, proses pembuatan garam memakan waktu sekitar satu minggu hingga siap panen, tergantung panas matahari.
“Kalau cuaca mendung seperti sekarang, tujuh hari sudah bisa panen. Tapi panas terus, bisa lebih cepat,” tambah Mukawi.
Keduanya memperkirakan masa panen tahun ini hanya akan berlangsung tiga hingga empat bulan. Padahal, saat musim kemarau panjang, mereka bisa bertahan hingga enam bulan di tambak.
Menariknya, kemarau pendek justru membuat harga garam naik di pasaran. Pasokan garam berkurang karena produksi menurun, sementara permintaan tetap tinggi.
“Kalau stok sedikit, harga bisa naik. Tapi kalau kemarau panjang, garam banyak, harga malah turun,” tutur Mukawi.
Hampir seluruh petani garam di kawasan pesisir Surabaya, seperti Tambak Oso Wilangun dan Greges, berasal dari Sumenep. Setelah panen, garam biasanya dibeli tengkulak dan dikirim ke pabrik pengolahan di Surabaya dan Gresik untuk diolah menjadi garam konsumsi. (*)
Editor : Lambertus Hurek