RADAR SURABAYA – Warga Surabaya dan sekitarnya akan mengalami fenomena alam unik, hari tanpa bayangan, pada Minggu (12/10) sekitar pukul 11.15 WIB. Pada saat itu, posisi Matahari berada tepat di atas kepala atau di titik zenit, sehingga bayangan benda tegak tampak menghilang.
Prakirawan BMKG Juanda, Bhilda Maulida, menjelaskan, fenomena ini disebut kulminasi utama atau transit Matahari. “Kulminasi utama terjadi saat deklinasi Matahari sama dengan lintang wilayah pengamat. Ketika itu, Matahari berada di posisi paling tinggi di langit, tepat di atas kepala,” ujarnya.
Menurut Bhilda, fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun, mengikuti pergerakan semu Matahari dari utara ke selatan dan sebaliknya. “Untuk periode Oktober ini, Matahari sedang bergeser ke selatan. Karena itu, wilayah di Jawa Timur termasuk Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik akan mengalami hari tanpa bayangan secara berurutan,” jelasnya.
Pada saat kulminasi utama, intensitas penyinaran Matahari mencapai titik maksimal. Akibatnya, suhu udara bisa terasa lebih panas dari biasanya, terutama bila kondisi langit cerah. “Tapi, suhu aktual tetap bergantung pada cuaca dan tutupan awan. Kalau mendung, efek panasnya tidak terlalu terasa,” kata dia.
Fenomena ini juga sering dijadikan penanda masa peralihan musim atau pancaroba di berbagai daerah. Pada masa ini, cuaca biasanya berubah-ubah: pagi cerah, siang panas, tapi sore bisa turun hujan disertai petir dan angin kencang.
Bhilda menegaskan, warga tidak perlu khawatir karena fenomena hari tanpa bayangan merupakan bagian dari siklus tahunan posisi Matahari. “Ini peristiwa alam yang normal dan bisa diamati langsung. Justru menarik karena menjadi bukti nyata gerak semu tahunan Matahari,” pungkasnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek