Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Akademisi UM Surabaya Soroti Fenomena Tepuk Sakinah, Jangan Hanya Viral tapi Harus Bermakna

Andy Satria • Kamis, 9 Oktober 2025 | 23:15 WIB
Tepuk Sakinah yang kini viral.
Tepuk Sakinah yang kini viral.

RADAR SURABAYA - Gerakan Tepuk Sakinah yang digagas Kementerian Agama (Kemenag) sebagai bagian dari kampanye keharmonisan keluarga kini tengah menjadi sorotan di berbagai platform media sosial.

Meski dikemas dengan cara yang unik dan ringan, tren ini ternyata menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi.

Menurut M. Febriyanto Firman Wijaya, dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), inisiatif Kemenag tersebut merupakan langkah kreatif dalam memperkenalkan nilai-nilai keluarga sakinah secara lebih dekat dengan masyarakat.

“Kemenag mencoba menyampaikan pesan moral dengan cara kekinian yang akrab di masyarakat. Ini upaya adaptif yang perlu diapresiasi,” ujar Rian sapaan akrab Febriyanto, Kamis (9/10).

Namun, dibalik semangat positif tersebut, Febriyanto mengingatkan agar gerakan Tepuk Sakinah tidak berhenti hanya sebagai aksi simbolik atau sekadar tren viral.

Menurut Febriyanto, konsep keluarga sakinah sejatinya mencakup nilai yang sangat luas, mulai dari komunikasi sehat, kemampuan mengelola konflik, keseimbangan emosional, hingga kestabilan spiritual dan ekonomi.

“Kalau semua itu direduksi menjadi tepukan tangan semata, maknanya bisa jadi terlalu dangkal. Ada risiko pesan luhur tentang keluarga berubah jadi sekadar pertunjukan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti potensi munculnya perilaku performatif, di mana pasangan hanya tampak harmonis di depan publik, tapi belum tentu menghidupi nilai itu dalam keseharian.

“Seolah cukup dengan satu tepuk tangan, semua persoalan rumah tangga bisa selesai. Padahal, keharmonisan sejati dibangun dari proses panjang dan kesabaran,” imbuhnya.

Febriyanto menilai, pemerintah perlu lebih berhati-hati ketika menyentuh ranah privat seperti kehidupan keluarga.

Ia khawatir pendekatan yang terlalu seragam justru membuat pesan kehilangan relevansi.

“Setiap keluarga punya cara sendiri dalam membangun kedekatan dan menyelesaikan masalah. Jika semua diarahkan dari atas ke bawah, bisa mengurangi kebebasan emosional pasangan,” ujarnya.

Bagi pasangan muda yang lebih dinamis dan terbuka, kampanye seperti Tepuk Sakinah bisa terasa kaku jika tidak dibarengi pendekatan yang kontekstual dan empatik.

Di tengah kultur media sosial yang penuh sarkasme dan parodi, ia juga mengingatkan bahwa kampanye seperti ini berisiko menjadi bahan olok-olok warganet.

“Kalau tidak dijalankan dengan tulus dan mendalam, Tepuk Sakinah bisa berbalik menjadi meme. Alih-alih memperkuat pesan, malah membuat nilai sakinah kehilangan makna,” katanya.

Ia menegaskan, ukuran keberhasilan kampanye publik seharusnya tidak diukur dari seberapa viral di TikTok atau Instagram, melainkan dari dampak nyata di lapangan.

“Yang seharusnya jadi indikator adalah penurunan angka perceraian, berkurangnya kasus KDRT, atau meningkatnya minat masyarakat mengikuti konseling pranikah,” tegasnya.

Ia menilai, kampanye Tepuk Sakinah akan memiliki arti besar jika diikuti dengan program pendukung yang lebih konkret.

Seperti penyediaan layanan konseling pernikahan profesional, edukasi finansial keluarga, dan penguatan kesehatan mental pasangan muda.

“Kalau hanya berhenti di gimmick media sosial, pesannya akan cepat tenggelam. Padahal, persoalan keluarga di masyarakat kita nyata dan kompleks,” tuturnya.

“Tepuk Sakinah memang menarik sebagai eksperimen komunikasi publik. Tapi jika tidak dibarengi aksi nyata, ia hanya akan menjadi tepuk tangan yang terdengar sesaat, lalu hilang tanpa bekas,” pungkasnya. (sam/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#media sosial #um surabaya #tepuk sakinah #viral #fenomena #kemenag #medsos #akademisi