Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Nostalgia lewat Kaset Pita dan Vinil Jadi Gaya Hidup Gen Z Surabaya

Andy Satria • Kamis, 9 Oktober 2025 | 04:54 WIB
KASET KLASIK: Pengunjung mencari barang buruannya di antara tumpukan pita kaset, yang merupakan koleksi dari Kedai Bagejo, Tunjungan, Surabaya, Rabu (8/10).
KASET KLASIK: Pengunjung mencari barang buruannya di antara tumpukan pita kaset, yang merupakan koleksi dari Kedai Bagejo, Tunjungan, Surabaya, Rabu (8/10).

RADAR SURABAYA - Di tengah derasnya arus musik digital, tren kaset pita dan piringan hitam (vinil) justru kembali naik daun.

Uniknya, para penikmat utama format klasik ini justru datang dari kalangan Gen Z.

Mereka bukan hanya sekadar ingin bernostalgia, tetapi juga mengapresiasi bentuk fisik dan nilai sejarah di balik setiap rilisan musik.

Fenomena ini terlihat di Kedai Bagejo, yang terletak di lantai 2 Pasar Tunjungan, Surabaya.

Kedai milik Faldi Posumah, seorang kolektor sekaligus penjual kaset pita dan vinil, kini menjadi tempat berkumpulnya para penikmat musik analog lintas generasi.

“Tren kaset pita sekarang memang sedang naik lagi. Banyak band, termasuk dari Surabaya dan Sidoarjo, yang mulai merilis album dalam bentuk kaset. Bahkan ada juga DJ yang mencetaknya dalam format ini,” ujar Faldi Rabu (8/10).

Faldi menjelaskan, daya tarik kaset pita tak hanya pada nilai nostalgianya, tetapi juga karena format ini dianggap sebagai bentuk apresiasi terhadap karya musik itu sendiri.

“Kalau punya salinan fisik, rasanya lebih personal. Kita bisa dengar, pegang, bahkan lihat desain albumnya,” tambahnya.

Menariknya, sebagian besar pengunjung Bagejo adalah anak muda berusia 18–25 tahun. Mereka datang tak hanya untuk membeli, tetapi juga berbagi cerita soal musik.

“Anak-anak Gen Z ini biasanya tahu dari Instagram atau dari teman. Mereka datang, ngobrol, tukar informasi. Bahkan ada yang koleksinya lebih banyak dari saya,” kata Faldi.

Untuk memutar kaset, para kolektor muda sebagian besar sudah memiliki tape player. Hingga rela berburu walkman bekas di toko barang antik dan pasar loak.

“Yang nggak punya alat pemutar biasanya nyari di toko bekas. Ada juga yang masih pakai walkman peninggalan orang tuanya,” ujarnya.

Faldi sendiri memiliki ratusan koleksi kaset dan vinil, sebagian besar keluaran tahun 1970-an hingga rilisan terbaru 2025 seperti Diskoria.

“Yang saya pajang di Bagejo hampir semua genre ada. Tapi kalau koleksi pribadi, saya suka rare groove Indonesia disco dan musik era 70-an,” jelasnya.

Dari segi harga, Faldi mengikuti harga pasaran yang berlaku di komunitas dan forum jual beli.

“Harga mulai dari Rp35 ribu sampai Rp200 ribu. Kalau yang langka bisa sampai jutaan. Pernah ada yang dijual Rp5 juta di forum jual beli,” ungkapnya.

Untuk perawatan, Faldi mengaku tidak sulit. “Yang penting sering diputar biar pita nggak jamuran. Dibersihkan juga pakai cotton bud dan alkohol. Gampang kok,” ujarnya.

Menurutnya, tren musik analog ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan bentuk ekspresi dan penghargaan terhadap sejarah musik.

“Anak-anak sekarang mulai sadar bahwa musik itu nggak cuma soal mendengar, tapi juga soal pengalaman,” tutup Faldi.

Dengan geliat ini, Surabaya kini tak hanya dikenal sebagai kota kreatif, tapi juga menjadi rumah bagi generasi muda yang menjaga nyala nostalgia lewat suara khas kaset pita dan gesekan piringan vinil. (sam/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#klasik #kolektor #tunjungan #Format #musik #kaset pita #Digital #Gen Z