RADAR SURABAYA - Terasi seolah menjadi bagian hidup bagi Arifin, 65, perajin terasi asal kawasan pesisir Bulak, Surabaya.
Lelaki itu sudah 15 tahun terakhir menekuni usaha turun-temurun keluarganya.
Dari kakek, ayah, hingga ibunya, semua pernah bergelut dengan udang rebon yang kemudian diolah menjadi terasi.
“Awalnya saya ikut melaut mencari ikan. Tapi sebelum meninggal, orang tua saya berpesan agar usaha terasi ini jangan sampai berhenti. Dari situ saya teruskan sampai sekarang,” ujar Arifin kepada Radar Surabaya, Kamis (2/10).
Meski hanya bersekolah hingga kelas 4 SD, Arifin tak pernah patah semangat.
Kini, ia menjadi satu di antara perajin terasi yang masih setia menggunakan cara tradisional.
Prosesnya pun cukup panjang. Udang rebon hasil tangkapan laut dicampur sedikit garam, kemudian dijemur dua hari berturut-turut.
Dari warna putih, berubah menjadi kecokelatan, lalu menghitam. Setelah itu, adonan dihaluskan lagi hingga dua kali, lalu dibentuk bulatan seberat satu kilogram.
“Kalau sudah kering, terasi tidak bau lagi. Bisa tahan sampai setahun tanpa pengawet,” jelasnya.
Terasi buatan Arifin dijual dengan harga Rp 50 ribu per kilogram.
Namun, ketika sudah sampai ke tangan pengecer di luar kota, harganya bisa melambung hingga Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu.
Pasarnya pun cukup luas, tak hanya di Surabaya, tetapi juga sampai ke Gresik, Pacet, Jombang, Bandung, bahkan Jakarta.
Arifin menyebut, ciri khas terasi asli bisa dilihat dari warnanya.
“Kalau hitam dan lembut itu asli, tanpa campuran. Kalau warnanya merah dan agak kasar, biasanya ada tambahan bahan lain,” terangnya.
Meski sudah banyak perajin baru bermunculan di pesisir Surabaya, Arifin tetap percaya diri dengan kualitas produksinya.
Ia tidak memberi merek ataupun nomor telepon pada produknya. Seluruh hasil produksi langsung diserap pelanggan tetap yang kemudian menjual kembali.
“Bagi saya, yang penting menjaga warisan orang tua. Saya kerjakan sendiri sejak istri sudah tidak ada. Selama masih kuat melaut, saya akan terus buat terasi,” tutur Arifin. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa