RADAR SURABAYA – Kota Surabaya berhasil menorehkan capaian penting dalam upaya pengentasan kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 hanya tersisa 105,09 ribu jiwa atau 3,56 persen, menurun 11,53 ribu jiwa dibandingkan periode Maret 2024 yang mencapai 116,62 ribu jiwa.
Kepala BPS Kota Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, menjelaskan tren ini merupakan pencapaian terendah dalam satu dekade terakhir. “Selama periode 2015–2025, angka kemiskinan Surabaya menunjukkan tren menurun. Pada 2015, jumlah penduduk miskin tercatat 165,72 ribu jiwa atau 5,82 persen, sementara pada 2025 turun menjadi 105,09 ribu jiwa atau 3,56 persen,” katanya.
Tak hanya jumlah, kualitas hidup masyarakat miskin di Surabaya juga membaik. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 0,65 menjadi 0,41, dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun dari 0,16 menjadi 0,11.
“Artinya, rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan dan kesenjangan antar penduduk miskin semakin menyempit,” jelas Arrief.
BPS mencatat garis kemiskinan di Surabaya pada Maret 2025 sebesar Rp775.597 per kapita per bulan, naik 4,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan rata-rata 4,83 anggota dalam rumah tangga miskin, maka batas garis kemiskinan per rumah tangga mencapai sekitar Rp3,74 juta per bulan.
Arrief menambahkan, penurunan angka kemiskinan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari terkendalinya inflasi 0,63 persen dalam setahun terakhir hingga beragam program perlindungan sosial.
“Berbagai program bantuan pemerintah, mulai dari BLT, BPNT, PKH, subsidi listrik, hingga bantuan pendidikan dan modal usaha juga menjadi faktor turunnya angka kemiskinan di Surabaya,” ungkapnya.
Menurutnya, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, serta intervensi sosial ekonomi yang masif membuat Surabaya semakin inklusif. “Upaya pembangunan dan berbagai intervensi sosial ekonomi tidak hanya menekan jumlah penduduk miskin, tetapi juga memperbaiki kualitas hidup mereka,” pungkas Arrief. (dim)
Editor : Lambertus Hurek