Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Fenomena Halo Matahari, Keindahan Cincin Cahaya dan Penjelasan Ilmiahnya

Muhammad Firman Syah • Rabu, 1 Oktober 2025 | 15:54 WIB
Fenomena halo matahari terlihat jelas di langit.
Fenomena halo matahari terlihat jelas di langit.

Radar Surabaya – Langit siang yang biasanya polos kadang menampilkan keindahan langka, sebuah cincin cahaya mengelilingi Matahari. Fenomena ini dikenal sebagai halo matahari. Selain memunculkan rasa takjub, kehadirannya sering memicu berbagai tafsir, mulai dari pertanda turunnya hujan deras hingga isyarat kosmik.

Saat halo muncul, Matahari tampak berada di balik lingkaran cahaya putih keperakan dengan semburat pelangi. Cincin itu terlihat begitu besar, seakan melingkari sebagian langit. Tidak sedikit masyarakat yang langsung mengabadikannya dengan kamera ponsel dan membagikannya di media sosial.

Namun, di balik rasa kagum, ada pula kecemasan. Primbon Jawa misalnya, mengaitkan halo dengan tanda musibah. Sejarah pun mencatat, sebelum sains berkembang, fenomena ini kerap dianggap sebagai pesan misterius dari langit.

Ilmu pengetahuan menawarkan jawaban berbeda. Sains menjelaskan halo sebagai fenomena optik atmosfer yang terjadi ketika cahaya Matahari berinteraksi dengan kristal es berbentuk heksagonal di awan cirrus atau cirrostratus pada ketinggian lebih dari enam kilometer.

Saat menembus kristal es, cahaya dibiaskan, dipantulkan, lalu diuraikan menjadi spektrum warna. Karena orientasi kristal es di atmosfer acak, cahaya membentuk lingkaran seragam dari segala arah. Lingkaran dengan diameter sekitar 22 derajat itu dikenal sebagai 22-degree halo. Meski terlihat statis, fenomena ini sesungguhnya dinamis. Kristal es terus bergerak mengikuti arus udara, sementara cahaya Matahari menciptakan ilusi cincin yang tampak tetap.

Selain halo 22 derajat, terdapat varian lain yang lebih jarang terlihat, seperti halo 46 derajat yang membentuk lingkaran lebih besar, sundogs atau parhelion berupa dua titik cahaya di sisi kiri dan kanan Matahari, circumzenithal arc berupa pelangi terbalik di langit, serta sun pillar atau pilar cahaya vertikal saat Matahari terbit maupun terbenam. Jika muncul bersamaan, fenomena-fenomena ini menciptakan panorama langit yang begitu menakjubkan.

Meski sering diasosiasikan dengan kawasan dingin, halo kerap terjadi di Indonesia. Pada 2016, warga Bogor sempat dihebohkan oleh kemunculan cincin cahaya besar di langit. Setahun kemudian, fenomena serupa terlihat di Kebumen dan membuat warga resah. Peristiwa halo juga pernah disaksikan di Banda Aceh, Sulawesi, hingga Kalimantan, dan hampir selalu viral di media sosial dengan tagar “halo matahari”.

Dalam budaya Jawa kuno, halo diyakini sebagai pertanda hujan deras atau peristiwa besar. Dalam mitologi Norse, fenomena ini disebut “cincin fajar” yang melambangkan hubungan dewa dan manusia. Tradisi Hindu pun menafsirkan halo sebagai peristiwa kosmik.

Namun, para ahli meteorologi menegaskan halo hanyalah akibat interaksi cahaya dengan kristal es di atmosfer. Meski demikian, mitos dan tafsir budaya tetap penting sebagai catatan sejarah bagaimana manusia sejak dahulu membaca tanda-tanda langit.

Secara umum, halo matahari tidak membahayakan, tetapi pengamatan harus dilakukan dengan hati-hati karena menatap Matahari secara langsung berisiko merusak retina. Dari sisi meteorologi, fenomena ini sering dijadikan indikator perubahan cuaca karena awan cirrostratus tempat halo terbentuk biasanya menandakan hujan akan turun dalam 24 hingga 48 jam berikutnya.

Bagi fotografer atau pilot, halo bisa menimbulkan tantangan teknis akibat cahaya kuat yang mengganggu visibilitas, tetapi sekaligus menghadirkan objek visual yang menakjubkan untuk diteliti dan diabadikan.

Baca Juga: Awan Lenticularis, Fenomena Indah di Gunung yang Berbahaya bagi Penerbangan dan Pendakian

Fenomena halo matahari memperlihatkan harmoni antara keindahan, sains, dan budaya. Ia membuktikan bahwa langit bukan sekadar kanvas biru, melainkan ruang interaksi dinamis antara cahaya dan atmosfer. Dengan pemahaman ilmiah, halo sebaiknya dipandang bukan sebagai pertanda buruk, melainkan pengingat akan keajaiban alam sekaligus kebesaran ilmu pengetahuan yang mampu menjelaskannya. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#keindahan #Halo matahari #atmosfer #matahari #cuaca