RADAR SURABAYA - Kota Surabaya dikenal sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, dan sebagai kota besar tentunya Surabaya memiliki sejarah yang panjang.
Untuk itu, Pemkot Surabaya membangun sebuah museum untuk menyimpan sejarah kota, dan menunjuk UPTD Museum Surabaya untuk pengelolaan.
Museum Surabaya ini berlokasi di Mall Pelayanan Publik Siola, Jalan Tunjungan.
Pengunjung yang datangpun tidak hanya keluarga, pelajar dan generasi Z kini menjadi kelompok yang paling banyak datang untuk menikmati cerita perjalanan Kota Pahlawan dari masa ke masa.
Shafa Putri, pemandu Museum Surabaya, menyebut minat pelajar terhadap museum ini cukup tinggi.
Bahkan dalam sepekan, ada saja rombongan sekolah yang datang hingga tiga kali, dengan jumlah mencapai ratusan siswa.
“Museum ini juga jadi penunjang mata pelajaran di sekolah. Jadi banyak sekolah menjadwalkan kunjungan rombongan, sekaligus mengenalkan Surabaya kepada siswanya,” terang Shafa, Rabu (24/9).
Museum Surabaya menyajikan perjalanan kota ini dalam lima zona.
Mulai dari masa kerajaan, kedatangan VOC dan Belanda, pendudukan militer Jepang, hingga pertumbuhan transportasi dan subkultur khas Surabaya seperti kuliner serta kisah Bung Karno.
Zona terakhir menghadirkan wajah Surabaya masa kini yang lebih modern.
Setiap zona dikemas detail sehingga pengunjung bisa merasakan atmosfer zaman yang berbeda.
Dalam sehari, museum ini bisa dikunjungi sekitar 300 orang, dengan puncak keramaian pada akhir pekan.
Untuk mengatur kenyamanan, jadwal kunjungan dibagi menjadi tiga sesi, dengan kuota 100–200 orang per sesi.
Museum Surabaya buka mulai pukul 08.00–15.00 WIB, setiap Selasa hingga Minggu.
Menariknya, pengunjung tidak dikenai biaya masuk alias gratis, cukup melakukan registrasi.
“Antusiasme pengunjung luar biasa. Apalagi Gen Z dan pelajar yang sekarang semakin tertarik mengenal sejarah lewat museum,” tambah Shafa.
Kehadiran Museum Surabaya tak hanya menjadi ruang belajar sejarah, tapi juga destinasi wisata edukatif yang terus menarik hati warga, terutama generasi muda yang ingin lebih dekat dengan identitas kotanya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa