Caption : Anak duduk di lahan kering, simbol pentingnya menjaga dan menyimpan air bersih di tengah musim kemarau.
Surabaya - Musim kemarau yang biasanya berlangsung dari April hingga Oktober kerap membawa masalah serius bagi masyarakat, terutama krisis air bersih. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, puncak kekeringan umumnya terjadi pada bulan Agustus, saat banyak sumber air menyusut bahkan mengering.
"Dampak kekeringan membuat sumber air bersih langka sehingga tidak bisa memenuhi pasokan air untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari manusia," tertulis dalam artikel Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang.
Kekurangan air bersih pertama-tama terasa pada kebutuhan minum. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air, sehingga dehidrasi bisa menjadi ancaman kesehatan jika kebutuhan cairan tidak tercukupi. Aktivitas sehari-hari pun terganggu, mulai dari mencuci, mandi, hingga memasak, ketika sumur andalan warga mulai mengering.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat mulai menyiapkan cadangan air bersih sejak jauh hari. Salah satu cara yang efektif adalah menggunakan tangki air di rumah. Selain menjaga pasokan tetap stabil, penampungan ini juga melindungi air dari kotoran dan debu.
Air hujan pun dapat dimanfaatkan.
"Melalui penyaringan dan pemrosesan yang benar, air hujan yang ditampung di dalam tangki air dapat diubah menjadi air bersih," Tulis dalam artikel.
Ahli lingkungan juga mengingatkan agar masyarakat memilih tangki berkualitas supaya air tidak mudah ditumbuhi lumut.
Selain faktor alam, perilaku boros air turut memperburuk krisis. Penggunaan air tanah secara berlebihan tanpa memperhatikan cadangan justru mempercepat terjadinya kekeringan. Dampaknya meluas, mulai dari matinya tanaman, lahan pertanian yang meranggas, hingga meningkatnya polusi udara akibat berkurangnya kelembapan.
Untuk menghadapi kemarau panjang, masyarakat disarankan melakukan beberapa langkah, antara lain.
Pertama, menggunakan air secukupnya, tidak berlebihan.
Kedua, menanam pohon di sekitar rumah agar tanah tetap menyerap air.
Ketiga, membangun waduk atau penampungan air sesuai kebutuhan.
Keempat, memperbanyak area resapan dan menghindari penutupan tanah dengan semen atau ubin.
Kelima, melindungi sumber air bersih yang ada melalui konservasi.
Jika langkah-langkah ini dijalankan, dampak kekeringan dapat ditekan. Air tetap tersedia meski musim kering berlangsung panjang.
Menghadapi kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran masyarakat berperan penting dalam menjaga ketersediaan air. Menghemat, menjaga lingkungan dan menyiapkan penampungan sederhana adalah langkah kecil yang bisa berdampak besar.
Musim kemarau memang tidak bisa dihindari, tetapi dengan persiapan matang dan kepedulian bersama, dampaknya dapat diminimalkan. Air bersih tetap terjaga, kesehatan terlindungi dan aktivitas sehari-hari tidak terganggu. (dwi/fir)
Editor : M Firman Syah