RADAR SURABAYA – Upaya meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengelola Diabetes Mellitus (DM) kembali digelorakan melalui program pengabdian masyarakat yang diinisiasi Tim STIKes Adi Husada Surabaya. Melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat di Ruang Lingkup Pengabdian Masyarakat Pemula, tim melaksanakan kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Kader Posyandu melalui Implementasi Therapeutic Patient Education Berbasis Augmented Reality (TPE-AR DM2) dengan Pendekatan Chronic Care Model untuk Meningkatkan Kemandirian Pengelolaan Diabetes Mellitus di Masyarakat Desa Kureksari, Kecamatan Waru Sidoarjo".
Program yang didukung pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jendral Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025 ini menggandeng Kader Posyandu Keluarga Flamboyan RW 02 sebagai mitra utama. Program ini berangkat dari hasil identifikasi permasalahan di lapangan, terutama terkait keterbatasan kader dalam menyampaikan edukasi yang interaktif, berkesinambungan, serta berbasis bukti kepada masyarakat penyandang diabetes.
Sejak awal September, rangkaian pelatihan digelar. Mulai dari pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) untuk edukasi lima pilar pengelolaan diabetes edukasi, terapi gizi, aktivitas fisik, terapi farmakologis, hingga pemantauan gula darah hingga pelatihan terpadu penggunaan alat glukosa darah dan senam kaki diabetik. Tidak ketinggalan, para kader juga mendapat materi psikososial dan komunikasi terapeutik agar mampu mendampingi pasien secara lebih empatik.
Puncak kegiatan berlangsung pada Jumat (19/9) di Balai Desa Kureksari. Dalam sesi ini, kader dilatih langsung bagaimana melakukan komunikasi terapeutik, sekaligus praktik simulasi antara kader dan pasien. Dengan begitu, ilmu yang diperoleh bisa langsung diterapkan saat memberikan pendampingan di masyarakat.
Salah satu kader, Lely, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru. Ia jadi tahu ada senam kaki khusus untuk penderita diabetes yang bisa mencegah komplikasi, terutama luka pada kaki. "Saya baru tahu ada senam kaki khusus penderita diabetes. Pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk warga kami,” ujarnya.
Senada juga disampaikan kader lain, Suaidah. Menurutnya Aplikasi TPE-AR DM2 mudah digunakan dan menarik. Dirinya sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini. "Melalui Aplikasi TPE-AR DM2 ini kami sangat terbantu sekali," tuturnya.
Sementara itu Ketua Tim Pengabdian Masyarakat STIKes Adi Husada, Novita Fajriyah, S.Kep., Ns., M.Kep., menegaskan kegiatan ini bukan sekadar transfer pengetahuan. Dengan melalui pendekatan Chronic Care Model dan teknologi AR, kader bisa lebih percaya diri dalam memberikan edukasi. "Harapannya, masyarakat bukan hanya memahami penyakitnya, tetapi juga mampu mengelola kesehatannya secara mandiri, itu yang penting” jelasnya.
Teknologi AR sendiri menghadirkan elemen digital teks, gambar, video, maupun objek 3D ke dalam lingkungan nyata melalui perangkat gawai. "Dengan pendekatan ini, kader posyandu bisa menyampaikan materi edukasi kesehatan, seperti senam kaki diabetik atau cara memantau gula darah, secara visual, praktis, dan lebih mudah dipahami masyarakat," sambung Novita.
Anggota tim yang lain, Rina Budi Kristiani, S.Kp., M.Kep., dan dr. Hermanto Wijaya, M.Kes., menambahkan bahwa program ini diharapkan menjadi contoh implementasi edukasi kesehatan berbasis teknologi di tingkat posyandu keluarga.
"Selain memperkuat peran kader sebagai garda terdepan, inovasi ini juga meneguhkan Desa Kureksari sebagai model pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi tantangan kesehatan di era digital," pungkas Rina. (ind/gun)
Editor : Guntur Irianto