Surabaya – Pemkot Surabaya serius menggarap konsep compact city sebagai strategi hemat energi sekaligus ramah lingkungan. Konsep ini menekankan efisiensi ruang, pemakaian energi terbarukan, hingga pengurangan emisi bangunan.
Hal itu muncul dalam dalam seminar Efisiensi Energi dan Energi Terbarukan pada Bangunan di Auditorium Pascasarjana ITS, Selasa (16/9). Hadir perwakilan pemerintah, akademisi, dan praktisi energi hijau.
Kepala DPRKP-CKTR Surabaya Irvan Widyanto menambahkan, sejumlah gedung pemerintah sudah dipasang panel surya. Pemkot juga memperluas penggunaan lampu hemat energi dan mengarahkan pembangunan hunian vertikal agar lebih efisien.
“Kota kompak ini kami integrasikan dengan transportasi ramah lingkungan dan ruang terbuka hijau. Manfaatnya, kualitas udara lebih baik dan biaya energi warga bisa ditekan,” kata Irvan.
Ditempat yang sama, Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menyebut Surabaya layak jadi proyek percontohan efisiensi energi.
“Kota ini sudah menunjukkan langkah nyata mengurangi emisi gas rumah kaca di sektor bangunan publik. Karena itu, Surabaya dipilih sebagai pilot project Program SETI,” ujarnya.
Fabby menegaskan, keberhasilan Surabaya bisa jadi model bagi kota lain.
“Efisiensi energi dan pemakaian energi terbarukan di perkotaan bukan lagi tren, tapi kebutuhan agar lingkungan tetap terjaga,” katanya.
Dengan langkah itu, Surabaya diharapkan bukan hanya nyaman ditinggali, tapi juga jadi rujukan nasional pembangunan berkelanjutan berbasis efisiensi energi. (dwi/fir)
Editor : M Firman Syah