Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Monumen Ayam Jago Resmi Berdiri di Surabaya, Simbol Legenda Raden Sawunggaling

Muhammad Firman Syah • Rabu, 10 September 2025 | 18:53 WIB
Monumen baru, Ayam Jago diresmikan di Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya.
Monumen baru, Ayam Jago diresmikan di Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya.

Surabaya - Kota Pahlawan kini memiliki ikon baru berupa Monumen Ayam Jago yang berdiri di Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri. Monumen setinggi tujuh meter ini dihadirkan sebagai penanda sejarah perjuangan Joko Berek atau Raden Sawunggaling, tokoh legendaris yang melekat dalam sejarah Surabaya.

Camat Lakarsantri, Yongky Kuspriyanto Wibowo, menyampaikan bahwa pembangunan monumen tersebut dimaksudkan sebagai simbol awal mula berdirinya Kota Surabaya. Kehadirannya juga menjadi jawaban atas aspirasi warga sejak 2023, yang meminta penanda sejarah itu kepada Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.

"Harapannya, infrastruktur penunjang seperti taman dan lahan parkir bisa segera dibenahi agar kawasan ini semakin menarik bagi wisatawan," ujar Yongky, Selasa (9/9).

Ketua LPMK Lidah Wetan, M. Andi Bocor, menambahkan bahwa monumen ayam jago sebenarnya pernah ada sejak masa kolonial Belanda, namun kemudian hilang. Warga pun sempat menggelar napak tilas menuju Balai Kota untuk menyampaikan aspirasi pembangunan kembali monumen.

"Pembuatan monumen ini melibatkan seniman Surabaya dengan waktu pengerjaan sekitar 2-3 minggu," jelasnya.

Masyarakat berharap keberadaan monumen tersebut dapat menjadi magnet wisata budaya, sejarah, hingga religi di kawasan Surabaya barat. Lebih dari itu, monumen juga diharapkan berfungsi sebagai sarana edukasi generasi muda dalam mengenal kearifan lokal dan asal-usul Kota Surabaya.

Berdasarkan cerita turun-temurun, Joko Berek adalah putra Adipati Jayengrono dari Kadipaten Surabaya. Ia dikenal gemar memelihara dan mengadu ayam jago. Kisahnya bermula ketika sang ibu, Dewi Sangkrah, memberikan selendang kuning sebagai tanda untuk mencari ayahnya di Kadipaten Surabaya.

Sesampainya di sana, Joko Berek ditantang dua saudara tirinya, Sawungrana dan Sawungsari, untuk adu ayam dan memanah. Setelah berhasil menang, ia bertemu Jayengrono dan menyerahkan selendang kuning tersebut. Perjuangannya berlanjut ketika Jayengrono meminta dirinya membuka hutan Wonokromo, yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Surabaya.

Kemenangan ayam jago yang selalu menyertai Joko Berek dianggap sebagai simbol keberanian dan kegigihan, yang kini diabadikan. (ris/fir)

Editor : M Firman Syah
#Kota Surabaya #Monumen Ayam Jago #legendaris #Sawunggaling #lidah wetan #lakarsantri