RADAR SURABAYA - Kuku kini tak sekadar dirawat agar sehat, tapi juga jadi media berekspresi lewat tren nail art.
Mery Suhartatik, nail artist di Komunails Surabaya, menyebut perawatan kuku kini semakin diminati masyarakat, terutama kalangan muda hingga pekerja kantoran.
Menurut Mery, sebelum melakukan nail art pelanggan biasanya lebih dulu menjalani perawatan dasar seperti manicure atau pedicure.
“Kalau tangan disebut manicure, kalau kaki pedicure. Prosesnya sama, dimulai dari pembersihan, shaping, dibuffer, baru kemudian diputek gel. Tujuannya supaya hasil nail art lebih awet dan kuku terlihat bersih,” kata Mery, Minggu (7/9).
Soal waktu pengerjaan, Mery menambahkan, manicure atau pedicure biasanya memakan waktu sekitar satu jam.
Sedangkan nail art bisa membutuhkan 1,5 hingga 2 jam, tergantung kerumitan desain.
“Kalau digabung manicure, pedicure, dan nail art bisa sampai lebih dari 3 jam,” ujarnya.
Di Surabaya, beberapa desain nail art menjadi favorit pelanggan.
“Yang sering disukai itu model cat eye, chrome, dan marble. Kalau tren klasik yang masih bertahan sampai sekarang ya french nail dan chrome glaze. Semua tergantung selera dan kebutuhan customer,” terang Mery.
Selain faktor estetika, banyak pelanggan datang untuk merawat kuku agar tampak lebih sehat dan rapi.
Rata-rata, perawatan ini dilakukan sebulan sekali. Puncak keramaian biasanya terjadi saat momen-momen tertentu.
“Kalau high season seperti Natal, Imlek, dan Lebaran, request-nya lebih beragam dan ramai sekali,” tambahnya.
Mery juga mengingatkan pentingnya merawat kuku setelah dipasangi nail art.
“Setelah nail art, jangan terlalu sering kena air hangat. Kalau tangan berminyak setelah makan harus segera dibersihkan. Jangan digunakan untuk buka botol atau congkel paket. Kalau pakai kuku ekstensi lebih berisiko, tapi ketahanannya bisa sampai satu sampai 1,5 bulan,” pungkasnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa