RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperketat kewaspadaan terhadap penyakit campak menyusul ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Sumenep, Madura. Langkah antisipasi dilakukan mengingat tingginya mobilitas warga antara Surabaya dan Madura.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menegaskan fokus utama pemkot saat ini adalah mempercepat imunisasi anak yang belum lengkap. “Mohon doanya agar Surabaya aman dari KLB. Kami terus berupaya agar itu tidak terjadi. Fokus kami adalah kejar imunisasi dengan mendatangi anak-anak yang belum lengkap status vaksinnya,” jelas Nanik.
Meski capaian imunisasi di Kota Pahlawan relatif tinggi, Nanik mengakui ada tantangan di lapangan. Masih ada sebagian kecil warga yang enggan membawa anaknya ke layanan imunisasi karena stigma maupun informasi keliru. “Kadang-kadang kami harus mendatangi satu per satu dari rumah ke rumah, karena masih ada orang tua yang percaya stigma tertentu,” ujarnya.
Data Dinkes Surabaya menunjukkan, capaian imunisasi Campak-Rubella (MR) sejak Januari–Juli 2025 sudah melampaui target pemerintah pusat. Dosis pertama tercatat 60,1 persen, dosis kedua 60,7 persen, dan dosis ketiga 76,71 persen, semuanya lebih tinggi dari target 58 persen.
“Target dari pusat itu 95 persen per antigen, dan kita sudah melebihi capaian nasional. Tapi tetap harus kita jaga agar tidak lengah,” tegas Nanik.
Selain imunisasi, warga juga diminta waspada jika menemukan gejala campak pada anak, seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam kemerahan. Apabila muncul ruam, pasien disarankan melakukan isolasi minimal tujuh hari sejak timbul gejala dengan pengawasan tenaga kesehatan dan aparat lingkungan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk segera periksa ke fasilitas kesehatan bila ada gejala. Vitamin A juga diberikan untuk mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi,” tambahnya. (*)