RADAR SURABAYA - Aksi unjuk rasa yang berlangsung di berbagai daerah di Indonesia seperti di Jakarta, Surabaya, dan Makassar yang berakhir dengan anarkis menimbulkan keprihatinan dari berbagai kalangan masyarakat, tak terkecuali di dunia pendidikan tinggi.
Rektor Universitas Wijaya Putra (UWP), Dr. Budi Endarto, S.H., M.Hum., menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa yang terjadi, termasuk pembakaran dua cagar budaya di Surabaya yakni Grahadi sisi barat dan Polsek Tegal Sari pada Sabtu, 30 Agustus 2025.
"Saya mengimbau kepada mahasiswa dan seluruh lapisan masyarakat untuk tidak bertindak anarkis dalam menyampaikan aspirasi," kata Budi Endarto yang ditemui di UWP, Senin (1/9).
Ia mendukung penyampaian aspirasi yang dilakukan oleh masyarakat dan elemen mahasiswa, termasuk mahasiswa UWP.
Sebab hal tersebut sejatinya merupakan hak konstitusional warga negara.
“Menyampaikan aspirasi merupakan hak setiap warga negara. Hal itu dijamin dalam Undang-Undang Dasar sekaligus implementasi Negara Indonesia sebagai negara yang demokratis.”, ujarnya.
Namun ia menekankan bahwa dalam menyampaikan aspirasi, tidak boleh merusak fasilitas publik yang dapat merugikan masyarakat lainnya.
Ia berpesan kepada mahasiswa dan masyarakat Surabaya dan sekitarnya untuk menjaga ketertiban dan menyampaikan aspirasi secara positif.
"Ayo jogo Suroboyo, Rek! Jaga kondusivitas kota kita dan seluruh wilayah di Indonesia. Jaga persatuan dan kesatuan bangsa," pungkasnya. (nin)
Editor : Nofilawati Anisa