Surabaya - Gedung Grahadi, ikon bersejarah sekaligus cagar budaya di pusat Kota Surabaya, hangus terbakar dan dijarah oleh oknum tak dikenal pada Sabtu (30/8) malam. Peristiwa itu mengubah suasana kota yang sebelumnya kondusif menjadi mencekam.
Kronologi bermula ketika sekelompok orang berpakaian hitam memasuki kompleks gedung. Mereka lantas membakar sisi barat bangunan, termasuk ruang kerja Wakil Gubernur Jawa Timur. Api cepat merambat dan menyebabkan kerusakan parah di area bersejarah tersebut.
Tindakan ini memicu keprihatinan masyarakat. Gedung Grahadi bukan sekadar pusat pemerintahan, tetapi juga saksi perjalanan panjang Kota Surabaya sejak zaman kolonial.
Sejarawan sekaligus penggiat sejarah, Yayan Indrayana, menegaskan Grahadi merupakan salah satu gedung tertua di Surabaya. Bangunan ini didirikan pada akhir era VOC oleh Residen Belanda Dirk Van Hogendorp.
"Iya, Grahadi dibangun di era-era akhir VOC. Tujuannya adalah untuk rumah pejabat Belanda Residen Dirk Van Hogendorp," ungkap Yayan.
Pada masa Gubernur Daendels, Grahadi mengalami renovasi besar. Daendels menilai bangunan kurang megah sehingga diubah menyerupai istana Eropa. Fasad ditambah ruang penerima dengan kolom klasik, sedangkan atap tunggal tinggi diganti struktur bertingkat rendah yang lebih dominan.
"Daendels merasa Gedung itu kurang megah, sehingga Daendels ingin diubah seperti langgam-langgam istana atau rumah bangsawan di Prancis," jelas Yayan.
Meski telah mengalami perubahan, sejumlah elemen autentik masih terjaga, khususnya di bagian barat yang ikut terbakar dalam insiden tersebut.
"Gedung yang terbakar tadi malam adalah gedung di sayap barat Grahadi, jadi secara nilai yang terbakar semalam adalah salah satu bangunan dengan bentuk lama yang masih otentik," tambah Yayan.
Lebih dari sekadar bangunan pemerintahan, Grahadi juga dikenal sebagai ruang aspirasi rakyat sejak zaman kolonial hingga era kemerdekaan.
"Memang sejak dahulu, kawasan Grahadi ini adalah salah satu tempat yang menjadi jujugan ketika ada penyampaian aspirasi. Tidak hanya di era kemerdekaan namun juga era kolonial atau penjajahan," terang Yayan.
Yayan menyayangkan peristiwa tragis tersebut. Menurutnya, hilangnya bagian otentik Grahadi sama dengan hilangnya potongan penting sejarah yang membentuk identitas Surabaya. (bil/ris/fir)
Editor : M Firman Syah